aku dan dia bukan pasangan yang sempurna, bahkan bisa dibilang sangat jauh dari sempurna.
kami menjalani 8 bulan hubungan ini dengan banyak perbedaan.
sifat, sikap, kebiasaan, agama...
yang terakhir mungkin akan jadi yang terberat ketika kami mulai berpikir akan melanjutkan hubungan ini ke arah yang lebih serius.
sebagai wanita yang tidak utuh, aku bahagia bisa memilikinya. dia tak pernah mempersoalkan kekuranganku. dia selalu mengusahakan yang terbaik untuk kepentinganku dan kebahagiaanku.
aku tak dapat membayangkan bagaimana jadinya aku tanpa dia. ini mungkin terdengar gila, posesif dan obsesif. aku tidak seharusnya terlalu menggantungkan diri (dan kebahagiaanku) pada orang lain. aku tahu harusnya aku bisa lebih mandiri.
namun, sejak aku kehilangan seseorang yang sangat aku cintai (yang bahkan tak mencintaiku juga) aku begitu rapuh. aku memiliki seseorang yang begitu mencintaiku, seseorang yang dulu memperjuangkan setengah mati cintaku yang dibawa entah kemana oleh masa lalu. aku tak akan melepaskannya. tak akan pernah.
soal kepercayaan kami, sangat berbeda dan bertolak belakang. kepercayaan yang saya anut, begitu mengagungkan sebuah pernikahan. tak ada kata bercerai, karna apa yang disatukan Tuhan tidak dapat dipisahkan manusia, selingkuh dan menikah lagi (walau sudah dinyatakan bercerai) akan dianggap berzina, tidak akan ada poligami. di kepercayaan yang dia anut, ada istilah menikah siri (yang hanya sah dalam agama), poligami, bercerai sangat mudah dilakukan. aku begitu takut akan hal itu, aku ingin komitmen yang kami bangun nantinya adalah untuk selamanya.
dan tentang keyakinan. aku begitu yakin mencintainya, aku juga yakin akan punya hubungan yang bertahan lama, aku yakin akan bersamanya hingga akhir hayat kami berdua. mungkin kami terlalu muda, namun keyakinan itu telah aku miliki. aku tak ragu.
keyakinannya? mungkin patut dipertanyakan. lisannya selalu berusaha membuatku percaya jika ia meyakini hal yang sama denganku. aku pun tidak bodoh. aku tahu dengan jelas, gerak gerik keraguannya itu.
jika ia akan membaca ini, aku ingin dia tahu, aku mencintainya, aku ingin terus bersamanya dalam susah maupun senang, saat sehat maupun sakit, sampai salah satu dari kami dipanggil oleh-Nya. tak terpikirkan olehku untuk meragukannya, walau kadang aku masih berpikir lagi, saat berpikir itu pula lah aku kembali meyakinkan diri bahwa dialah orang yang kupilih untuk menemaniku. aku harap dia punya keyakinan yang sama kuatnya denganku. aku akan bahagia bersamanya. aku tahu itu.
Selasa, 24 Maret 2015
ini soal kepercayaan dan tentang keyakinan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar