Senin, 14 Oktober 2013

kaca-kaca



Kamu lagi…. kamu lagi…. Kapan kamu berhenti datang padaku tiba-tiba? Kapan kamu berhenti kembali padaku disaat hatiku mulai membaik? Aku lelah harus mengulangi mengobati hati ku dari awal lagi. Aku lelah kau datangi sebentar lalu kau tinggal pergi untuk waktu yang lama dan aku harus berusaha melupakanmu lagi dan lagi.

Hati ku seperti kaca yang Tuhan ciptakan, garansinya memang seumur hidup, tapi tidakkah kamu merasa bersalah telah memecahkannya berkali-kali? Setiap kau datang padaku, kau hanya membawa luka lama, kadang kau juga membuat  luka baru. Luka-luka dalam hatiku mungkin bisa terbaca di mataku yang mulai berkaca-kaca ketika mendengar namamu.

Setelah sekian lama kamu menghilang, kamu datang lagi. Kedatangan pertamamu bisa kucegah. Namun kedatangan keduamu, aku tak berdaya. Aku juga rindu, aku juga ingin mendengar suaramu. Tapi kata-kata yang terucap hanya membingungkan aku, seolah kita berbicara bahasa yang berbeda. Kamu dengan bahasa tinggimu dan aku dengan bahasa yang cuek dan apa adanya.

Kau akan melihat mataku berkaca-kaca jika kau bertemu denganku. Kaca-kaca nya sekarang pecah. Puaskah? Kaca-kacanya pecah dimataku, serpihannya mengalir deras di kedua pipiku. Mengusapnya hanya menghilangkan serpihannya namun lukanya masih terasa ada. Bagaimana mungkin aku bisa menunggu kamu bertahun-tahun dengan luka-luka tak terobati ini?

Kalau pun suatu hari nanti akan ada orang yang mengobatinya. Aku akan bertahan dengannya. Aku tidak akan kembali padamu meski kau memohon. Aku hanya akan menggoreskan luka baru pada diriku jika aku kembali padamu. Aku tahu cinta ini membuatku lemah. Aku hanya akan berusaha kuat dalam prinsipku menjauh darimu. Semoga bisa…

Kamis, 10 Oktober 2013

janji tak terpenuhi



Malam ini aku datang ke tempat yang kau janjikan dulu. Tempat dimana kita akan menghabiskan waktu berdua sebelum kamu pergi jauh. Bukannya aku ingin mengenang janji-janji kosongmu. Sebaliknya, aku ingin mencari hiburan disana, menghilangkan penat dan ingin menghapus sebuah ingatan yang kusimpan dalam.

Tiba-tiba saja dia mengingatkan ku tentang kamu. Padahal aku ingin sekali terlihat tidak peduli. Aku ingin lupa besok tanggal 11 Oktober. Aku ingin berpura-pura tidak tahu kalau kamu besok akan kembali. Tahu kita akan berada satu kota lagi membuatku sedikit panik tanpa alasan pasti. Aku rasa aku hanya takut bertemu denganmu. Aku takut teringat lagi padamu. Aku takut kembali menjatuhkan hati ini padamu. Aku takut harapan itu tumbuh lagi dengan sia-sia.

Aku tidak tahu sampai kapan kita akan berada di satu kota tanpa bertatap muka. Selama ini aku tahan berada jauh darimu dan tidak berbicara padamu. Namun rindu ini sudah memuncak, sudah ingin dipuaskan dengan pertemuan dan pelukan. Aku harap rindu ini tidak mendorongku melakukan tindakan nekat demi bertemu denganmu. Bukan aku tak cinta, bukan pula tak rindu. Aku hanya takut terluka lagi saat bertemu.

Mengingat pertemuan terakhir kita sangat menyakitkan. Perpisahan terakhir kita juga tak jelas. Membuat semua yang kita lalui serasa tak nyata dan tak berarti. Aku pun meragu pentingkah pertemuan kita nantinya. Kuputuskan berpura-pura tak tahu dan tak peduli. Maafkan aku.
Saat aku kembali pulang, suara kereta yang melaju kencang membuyarkan lamunanku yang berganti menjadi bayangan kamu ada dalam kereta kosong itu dan melambaikan tangan padaku. Aku ingin kau kembali padaku. Tapi sepertinya kau selalu menemukan dia yang lebih baik, dia yang lebih cantik, dia yang lebih pintar. 

Wanita-wanita yang berdiri rapat di sekitarmu seperti pagar yang membatasi kita. Kamu menjadi sebatas imajinasi yang tak mungkin menjadi nyata. Rindu yang tak terbalas. Cinta yang menggantung terlalu tinggi. Seperti bintang yang tak bisa diraih dan janji yang tak terpenuhi.

Sabtu, 05 Oktober 2013

selamat malam



Selamat malam, sayang. Apakah langit Jogja sama gelapnya dengan langit Surabaya?  Malam  ini aku sempatkan menulis sesuatu untukmu. Meskipun mata mulai terasa berat dan nyamannya selimut sudah mulai memanggil akan aku abaikan untuk ini. Aku ingin kamu tahu, aku masih disini, menanti kamu, hanya kamu. Membiarkan mereka hanya melewati hati ini tanpa membawa sepotong pun bagiannya.

Perasaan ini tak mudah pindah hati, kau tahu? Jika dia sudah melekat padamu, maka akan terus begitu sampai nanti tiba seseorang yang berusaha keras melepaskan ini dari kamu dan melekatkan pada hatinya. Jika hari itu tiba, kamu tidak akan mendapatkan aku lagi. Aku takkan kembali. Hari itu mungkin akan datang cepat, tapi tidak sekarang. Bagaimana jika sekarang aku bilang aku sangat merindukanmu? Bagaimana jika aku memintamu kembali? Mau kah kamu?

Surat ini tidak akan sampai ditanganmu tepat waktu, malaikatlah yang akan membisikkan namaku di telingamu dan membuatmu teringat padaku. Berjanjilah ketika kau teringat padaku, cobalah sekali lagi untuk menyapaku dengan senyuman hangatmu itu. Walau aku sempat menolakmu waktu itu, percayalah, itu hanya karna ketakutanku saja. Aku takut mencintaimu lebih dalam lagi. Aku takut menjerumuskan diriku terlalu dalam pada hal yang tak berujung pasti. Cintamu bukanlah pintu yang mudah diterka isinya. Tapi aku masih mau mencari tahu, aku mau kamu kembali.

Bukankah akan jadi akhir yang bahagia jika kamu kembali padaku? Menemukan aku masih menantimu meski sekian lama kau melupakan aku. Aku masih mencintaimu hingga saat ini. Belum ada yang melepaskan perasaan ini dari hatimu. Kumohon dengan sangat, kembalilah. Coba rasakan apa yang aku rasakan. Jika kamu pernah mengingatku atau bahkan memimpikanku, ketahuilah, saat itu pula aku sedang mengingat dan memimpikanmu. Bertemu dalam mimpi, masih mengingatmu di pagi hari, tak bisa menemukanmu dimanapun disekitarku, tahu kah kamu seberapa dalam kenyataan itu menusukku? Memang harapan itu sempat terbang tinggi namun kenyataan menghempaskannya hingga jatuh dan terbunuh.

rindu



Perasaan ini muncul lagi. Perasaan aneh yang selalu menghantuiku saat aku sendirian. Perasaan rindu yang minta dipuaskan dengan pertemuan dan pelukan yang hangat dan erat. Perasaan yang juga bertabrakan dengan perasaan ragu, perasaan tak yakin dan takut dipermainkan. Perasaan takut, takut salah mengartikan semua ini, salah mengartikan ocehan di twittermu. Perasaan yang menusuk, menyiksa, menakutkan.

Aku tidak pernah tahu bagaimana cara mengendalikan perasaan ini. Berusaha sekuat hati ini untuk tidak pernah memikirkanmu lagi, tidak mencari tahu tentang keadaan dan keberadaanmu, tidak lagi mau tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Aku tidak ingin terluka lagi, terlalu lama menanti, terlalu takut menjauh, tapi juga terlalu sakit untuk dipaksakan tetap bersama.

Bisakah aku menghentikan semuanya? Aku tidak yakin, tapi aku akan berusaha, meskipun aku tahu ini sangat sulit. Benar-benar sulit sampai aku sendiri kebingungan, tak punya arah mau kemana, mereka semua tidak bisa sepertimu. Aku nyaman bersama mereka tapi aku tidak mencintai mereka. Tidak pernah. Aku hanya mengalihkan perhatianku agar aku melupakanmu. Namun saat aku sendirian, bayanganmulah yang muncul, cerita tentang kita lah yang terbayang. Apakah ini rindu? Ini cinta? Kenapa begitu menyiksa?

Bisakah aku menggantinya dengan perasaan bahagia? Perasaan nyaman seperti yang aku butuhkan? aku ingin itu, aku butuh itu. Aku rasa aku sudah sangat menyayangimu. Meski sedikit bahagiaku bersamamu. Membayangkan kamu tidak disisiku sudahlah sangat buruk. Kini kamu benar-benar tidak disisiku. Kamu menghancurkan hatiku. Hati yang masih merindukanmu walaupun sudah menjadi kepingan-kepingan kecil.

pengalih perhatian



Aku bisa membayangkan pertemuan itu. Kamu memanggil namaku tapi aku enggan menoleh kearahmu. Kamu mengulurkan tangan, menahanku dengan memegangi lenganku. Aku memejamkan mata, tetap tak bergeming, tetap tak bicara. Kamu sekarang berdiri di depanku, aku bisa merasakannya tapi aku masih tidak berani membuka mata. Kamu menggoyang-goyangkan bahuku, merengek agar aku membuka mata dan bicara padamu. Aku tidak yakin akan melakukannya dan mengulangi kebodohan yang sama seperti yang dulu pernah aku lakukan. Aku membuka mata, tapi aku tetap tak bicara.

Keheningan yang seperti ini, yang membuat aku ingin menangis. Jika diam seperti ini bisa membuat kita dekat tanpa ada kesalahpahaman, aku rela terus berdiam diri didekatmu. Menjadi pendengar yang baik dan peka akan tiap intonasi dalam tiap ucapanmu. Tapi tidak, kita tidak bisa begini terus, semua ini harus selesai, secepat mungkin.

Air mataku mulai mengalir dikedua pipiku, kamu hanya memandangiku dengan heran sambil tetap memegangi bahuku. Ya, kenapa? Aku tidak tahu mau bilang apa padamu, semua yang sudah aku katakan seolah tidak berarti dan tidak penting bagimu, lalu untuk apa sekarang aku bicara? Aku hanya bisa menangis, aku kehabisan kata-kata untuk meyakinkanmu. Lebih baik kita berpisah. Lebih baik kita berjauh-jauhan lagi.

Tentang cinta ini, mungkin kita, atau mungkin aku harus melupakannya. Tak mudah membuatmu mengerti, tak mudah pula membuatmu merasakannya. Kita selalu meragukan perasaan masing-masing. Kita tak bisa membedakan yang tulus dan yang tidak. Kita sibuk dengan presepsi masing-masing.

Kamu bilang aku membaginya? Itu semua tidak benar sayang. Apakah kamu pernah mendengar tentang ‘pengalih perhatian’? ya itu lah mereka sayang. Aku berusaha melupakanmu dengan mencoba melihat mereka. nyatanya aku tidak bisa, kata-kata puitis yang kubaca mengingatkan aku padamu. Mengirimnya padamu adalah hal ang mustahil, jadi semuanya kubaca sendiri, kurenungkan sendiri, hingga aku terlelap dengan air mata yang mulai mengering di pipiku.