Selasa, 29 April 2014

Cinta Tak Takut

Jatuh cinta itu menakutkan.
Ketika kamu mulai merasakan cintanya.
Ketika kamu mulai merasa bahagia.
Ketika kamu mulai merasa terbang.
Jatuhnya sudah menanti kamu.
Sakitnya sudah bersiap menangkapmu.
Laranya sudah siap menikam hatimu.

Jatuh cinta itu menakutkan.
Ketika kamu mulai merasa memilikinya.
Ketika kamu merasa lengkap.
Kehilangan sudah mengintaimu.
Kehampaan sudah siap menangkapmu, membekapmu sampai tak sanggup bernafas.

Sudah seperti siang dan malam.
Kebahagiaan dan kesedihan juga akan selalu berdampingan.
Terlalu bahagia sampai ingin terbang.
Terlalu sedih sampai ingin mengubur diri dalam tanah.

Aku takut percaya lagi.
Karna kekecewaan akan datang mengiringinya.
Aku takut jatuh lagi.
Karna kesakitan akan mengikuti di belakangnya.

Namun cinta tak pernah takut datang lagi.

Kamis, 24 April 2014

Kabarmu?

Apa kabar kamu, pria yang tak berkabar?
Sehatkah? Atau sakitkah?

Semalam aku memimpikan kamu.
Aku melihatmu terbaring lemah, namun aku tak tahu benar keadaanmu sebenarnya.

Bolehkah aku meneleponmu?
Jika tidak, paling tidak biarkan aku mengirimkan sebuah pesan singkat.
Ataukah aku hanya boleh berdoa untukmu lalu menunggu kabarmu lewat mimpi?

Bagaimana dengan surat rinduku? Sudahkah kau membalasnya?
Atau bahkan kau belum menerimanya?
Tak apalah, tak usah kau hiraukan surat rindu itu. Cepatlah berkabar. Aku harap kamu sehat. :)

Selasa, 22 April 2014

Siapakah Kamu ?!

Siapakah kamu sampai kamu berani menghakiminya?
Siapakah kamu berhak menilainya?
Tak berdosakah kamu sampai kamu menghujat dia di belakangnya?
Cukup baikkah kamu sampai kamu menilainya jahat?

Tak pernahkah kamu berkaca?
Kamu tak lebih baik darinya.
Kamu bilang dia tak punya hati karena menyakitiku.
Bagaimana denganmu?
Apa kamu yakin apa yang kamu lakukan tak menyakiti orang lain?

Kamu bilang cinta saya buta?
Mungkin iya. Namun saya tak munafik untuk memungkirinya.
Saya tak seperti kamu, memungkiri bahwa kamu sama saja dengannya.

Siapakah kamu beraninya bertanya dia itu siapa?
Hanya aku yang tahu soal itu dan biarkan itu menjadi rahasiaku.
Pertanyaannya adalah siapakah kamu sampai kamu masuk terlalu jauh dalam hubungan kami, merusaknya lalu pergi. Siapakah kamu?

Tentang Rindu Saya Kepada Kamu

Saya mencoba mencari Dia yang menciptakan kamu. Saya mengadu sedikit padaNya bahwa saya merindukan kamu. Saya percaya Dia tahu lebih banyak. Saya yakin Dia punya rencana lebih baik untuk kita.

Saya sangat sangat merindukan kamu, lebih daripada tanaman merindukan tetesan hujan pada musim kemarau. Semakin saya mencoba menyangkal, semakin rindu ini menjadi dalam.

Saya rindu sapaanmu meski hanya lewat pesan singkat. Meski saya harus terkantuk menantinya.

Saya rindu pertemuan kita, meski hanya beberapa detik aku dapat menatap wajahmu.

Ini bukan khayal, karna kamu bukan tokoh fiksi. Perasaan saya tak dangkal. Saya mencintaimu bukan karna fisik.

Perasaan saya jelas dan rindu ini nyata. Rindu ini tak menuntut balas. Rindu ini bukanlah dendam yang perlu balas para pembenci. Rindu ini tulus dari seorang pencinta. Rindu sepihak oleh pencinta sendiri. Rindu yang tertahan dalam diam. Rindu yang tertumpah dalam air mata.