Kamu lagi…. kamu lagi…. Kapan kamu berhenti datang padaku
tiba-tiba? Kapan kamu berhenti kembali padaku disaat hatiku mulai membaik? Aku
lelah harus mengulangi mengobati hati ku dari awal lagi. Aku lelah kau datangi
sebentar lalu kau tinggal pergi untuk waktu yang lama dan aku harus berusaha
melupakanmu lagi dan lagi.
Hati ku seperti kaca yang Tuhan ciptakan, garansinya memang
seumur hidup, tapi tidakkah kamu merasa bersalah telah memecahkannya
berkali-kali? Setiap kau datang padaku, kau hanya membawa luka lama, kadang kau
juga membuat luka baru. Luka-luka dalam
hatiku mungkin bisa terbaca di mataku yang mulai berkaca-kaca ketika mendengar
namamu.
Setelah sekian lama kamu menghilang, kamu datang lagi.
Kedatangan pertamamu bisa kucegah. Namun kedatangan keduamu, aku tak berdaya.
Aku juga rindu, aku juga ingin mendengar suaramu. Tapi kata-kata yang terucap
hanya membingungkan aku, seolah kita berbicara bahasa yang berbeda. Kamu dengan
bahasa tinggimu dan aku dengan bahasa yang cuek dan apa adanya.
Kau akan melihat mataku berkaca-kaca jika kau bertemu
denganku. Kaca-kaca nya sekarang pecah. Puaskah? Kaca-kacanya pecah dimataku,
serpihannya mengalir deras di kedua pipiku. Mengusapnya hanya menghilangkan
serpihannya namun lukanya masih terasa ada. Bagaimana mungkin aku bisa menunggu kamu bertahun-tahun dengan luka-luka tak terobati ini?
Kalau pun suatu hari nanti akan ada orang yang mengobatinya.
Aku akan bertahan dengannya. Aku tidak akan kembali padamu meski kau memohon.
Aku hanya akan menggoreskan luka baru pada diriku jika aku kembali padamu. Aku
tahu cinta ini membuatku lemah. Aku hanya akan berusaha kuat dalam prinsipku
menjauh darimu. Semoga bisa…