Rabu, 28 Mei 2014

Pria Itu

Aku jatuh cinta pada pria itu.
Pria bertubuh tinggi tegap.
Pria yang berbicara dengan emosi meluap-luap.
Pria yang kerap membuat jantungku berderap.

Aku jatuh cinta pada pria itu.
Pria dengan mata layu.
Pria dengan raut wajah lelah.

Aku jatuh cinta dengan pria itu.
Pria yang butuh lengan lengang untuk tubuhnya.
Pria yang butuh cinta sebelum ia renta.

Aku jatuh cinta pada pria itu.
Pria yang ada di depanku.
Membuat mata dan hatiku terpaku.

Selasa, 27 Mei 2014

Kenangan yang Kembali

Tatapan mata itu, membuat aku selalu ingin tertunduk.
Senyum yang lama tak kulihat itu, membuat hatiku kembali terketuk.

Aku tak ingin membukanya kembali.
Aku tak ingin jatuh terlalu jauh ke dalam kenangan yang memburu tak kenal jenuh.

Betapa aku ingin itu terulang namun aku tak sanggup tersakiti untuk yang kesekian kali.
Masa lalu adalah masa lalu.

Lanjutkanlah perjalanan yang telah jauh kau tempuh.
Carilah wanita sempurna itu.
Jangan pernah kembali kepada wanita ini.

Kau pernah mencabik hatinya dengan bengis.
Tanpa pernah melihatnya menangis.

Kau memanggilnya kembali.
Tanpa tau ada luka yang tergali.

Wanita ini lemah.
Meski terlihat tabah, tubuhnya butuh punggung tegap yang siap berdiri di depannya.
Menghalau kenangan yang kembali hanya untuk menyakiti.

Rindu terobati, tak begitu dengan sakit hatinya.
Tak diharapkan namun pasti akan kembali juga.
Tak dapat disangkal, bakal terluka juga.

Sabtu, 17 Mei 2014

Perasaan atau Keadaan?

Ada yang berbeda saat aku menatap matamu.
Ada yang berbeda dari caramu menasehatiku.
Perbedaan-perbedaan itu kian terasa untukku.

Tatap mataku semakin memuja.
Sorot mataku selalu mengekori sosokmu, seperti tak ingin kehilangan jejakmu.
Langkah kakiku pun sebenarnya selalu mengikuti langkah kakimu, walau tak kentara benar, walau kau tak menyadarinya.

Aku....
Aku sungguh tak mampu menyembunyikan ini lagi.
Namun kurasa, pengakuanku percuma.
Kau takkan mempercayaiku.

Kamu adalah mantan temanku.
Temanmu sekarang sedang dekat denganku.
Entah mengapa harus serumit ini.

Salah perasaanku kah?
Atau salah keadaan ini?

Kamis, 15 Mei 2014

Kembali ke Pertengahan Januari

Aku seperti pernah melihat raut wajah dan sorot mata seperti itu. Di pertengahan Januari waktu itu. Aku melihatnya dengan jelas, sejelas luka yang tergores di hatiku pada saat itu juga.

Kamu mengingatkanku pada kejadian itu. Padanya. Seseorang yang aku cintai benar. Seseorang yang akhirnya pergi tanpa pernah menoleh kebelakang.

Waktu itu, mungkin memang aku yang bersalah. Aku yang membuatnya bersedih. Namun kini, entah apa atau siapa yang membuatmu begini.

Seperti ingin menebus kesalahanku waktu itu padanya. Rasanya, aku ingin mengambil tempat di sebelahmu. Bertanya padamu "ada apa?". Mendengarkan keluh kesah yang mungkin akan kau tumpahkan. Tapi sepertinya takkan terjadi. Aku hanya dapat memandangimu resah. Pesan singkatku pun bahkan tak kau gubris.

Ku harap kau akan baik. Ku harap kau akan kembali dengan senyummu. Cepatlah pulih. Cepatlah bangkit.

Selasa, 06 Mei 2014

Tentang sebuah perjalanan

Beberapa hari yang lalu, aku mencoba membuat puisi sederhana tentang sebuah perjalanan. Aku tahu sayang, perjalanan kita sudah terlalu jauh. Namun kita belum juga menemukan akhir yang jelas. Sampai kita mendapatkan sebuah kesimpulan baru...kamu bahagia dengan jalanmu dan aku juga (terpaksa harus) bahagia dengan jalanku. Kita berpisah di persimpangan itu.

Aku bilang, perjalanan paling jauh adalah perjalanan menuju hatimu. Rasanya seperti mengikuti alur benang yang kusut. Sungguh tak kutemui ujungnya.

Aku juga bilang, jauhnya perjalanan Surabaya - Jogja tak sejauh harapanku padamu. Ah mungkin aku yang berharap terlalu jauh.

Kita memang telah berjalan jauh. Lebih dari 365 hari yang kita lewati. Lebih dari 12 kali bulan purnama kita lihat.
Aku sedih kita harus sampai di persimpangan itu.

Aku bilang, langkah yang kita ambil menentukan arah perjalanan kita. Kamu mengambil langkah yang lain, membuat kita berjalan ke arah yang berbeda.

Kamu menemukan seseorang baru yang bisa berjalan bersamamu ke arah yang kamu mau. Lalu aku bilang, sebuah perjalanan akan terasa sangat menyenangkan jika aku berjalan berdampingan denganmu ke arah yang sama, bukannya menyaksikan kamu berjalan dengannya ke arah yang berbeda dan meninggalkan aku di persimpangan itu.

Aku tak ingin sendirian menanti kamu disana. Karna aku tau, kamu tak akan kembali. Kini aku melanjutkan perjalananku sendiri. Jika dari tiap perjalanan akan ada kenangan, mungkin kini kamu adalah bagian dari kenangan itu.

Aku berjalan terus tanpa henti. Bukan aku tak kenal lelah. Aku hanya mencoba menjauh, kalau bisa sangat jauh dari persimpangan itu. Aku tak ingin mengingat hari dimana kamu meninggalkan aku. Tapi pada kenyataannya, disetiap langkahku, bayangmu selalu mengikuti aku.

Dalam tiap langkahku pun, aku tak pernah lupa mendoakanmu. Aku ingin kelak kita bertemu lagi, berjalan bersama lagi dan tak akan terpisah meskipun kita menemui banyak persimpangan.

Sampai kini jalan yang kita ambil dan kita tempuh masih belum mempertemukan kita kembali. Harus berjalan sejauh apalagi agar aku bisa kembali berjalan bersamamu?

Kau bilang, kamu sedang berlari di atas pecahan kaca diiringi tawa orang-orang yang melihatmu. Sesulit itu kah perjalananmu dengannya?

Jika kita tak berpisah di persimpangan itu, mungkin aku akan menemanimu berlari di atas pecahan kaca itu. Walau sesungguhnya aku tak suka berlari. Aku lebih suka berjalan dan menikmati.

Jika kita tak berpisah di persimpangan itu, mungkin kamu akan berjalan bersama denganku di jalan yang telah diberkati ini. Di jalan yang dimana aku banyak menemukan kesenangan. Walau kesenangan yang tak lengkap karna tanpamu.

Ah, apa gunanya menyesali sebuah perpisahan. Aku berjalan terus. Menajuh dari persimpangan jurang pemisah kita. Aku harap jalanmu segera membaik. Jika jodoh, sebuah persimpangan yang diberkati akan mempertemukan kita.