Jumat, 19 Desember 2014

Wishing You A Happy Birthday


It’s 3 days before your birthday. I may not have a time to meet you and give you a present, but I make a time to write this. I know we don’t talk for many days, but it doesn’t mean I don’t think about you. I swear I do, but I have no ways to show you that I’m really care about you. This may be the last time I write things about you. Because I’ve got to move on and let you live your life happily with her.

Happy Birthday to you,
The special person that ever stay in my heart for months
Up and down in our friendship may be give us something to learn
I wish you are grow wiser as you grow older
Because I know someday, you’re gonna be a great man
Once again, happy birthday
Hope all your wish come true
Because what makes you happy, makes me feel the same.
I love you
J

Things I Wish You Would Do and The Opposite You’ve Done

I wish, you come back to me after I push you away.
But you don’t. You pick her with you and go.
I wish, you show me how much you actually want to be with me.
But you don’t. You show me how you actually want to be with her.
I wish, you chase after me when I walk away from you.
But you don’t. You just going to another way and meet her.
I wish, you reassure me when I get jealous to another girl that means nothing.
But you don’t. You make me realize that I’m the one who means nothing.
I wish, you fight for me when I’m too afraid to stay in the relationship.
But you don’t. You left me.
I wish, you prove to me that I’m able to trust someone again.
But you don’t. You showed me why I shouldn’t have to trust somebody 

So I heard you’re sorry about things that you’ve done.
But I just want you to show me that you’re really sorry. 

Sabtu, 13 Desember 2014

Nothing Left To Me

Some days we’re act like a couple in love. Some other days we’re just act like we’re stranger. I never understand why it come to us. If you can’t love me. If I can’t have you. Why I must loving you all this time? Why I just can’t go away and pretending like nothing ever happen between us? Why you can’t be real and saying that you don’t love me? Why you still ask about me to my friend? Don’t you know it makes me harder to leave. It seems like you still have something to me. But I keep remind myself that you’re not. You love her and nothing left to me.

Being a Reflection

We used to have something. Something great that I can’t explain. Something that makes me happier than I used to be. But lately, I realize something. I know, for you, I’m just her reflection. The sweet things that you’ve done to me, that’s all fake. You want to treat her like that but you can’t, so you treat me that way. I know you make some girls as her reflection. I wish I can make a difference. But I can’t. I’m being another reflection. I think I’m okay with that. I can deal with it. But I’m not.


I know she must be coming back and you’re gonna leave me behind. I’m ready even I’m not. Cause I know that’s all you want. You waiting for months to be with her. All the things I’ve done just doesn’t enough to make you happy and forget about her. You still want her even you’ve ever said to me that you doesn’t love her anymore. I know you’re lying. It’s okay. I used to.  Some people just can’t be real with me. 

Rabu, 23 Juli 2014

Maafkan aku

Maafkan aku karna tak mempercayaimu di awal
Maafkan aku karna menolakmu
Maafkan aku karna aku sempat menganggap ini lelucon
Maafkan aku karna aku terlambat menyadari
Maafkan aku karna aku hanya bisa menyesali
Maafkan aku karna tak dapat berkata apa-apa untuk menahanmu
Maafkan aku karna membuatmu tak percaya lagi padaku
Maafkan aku karna sempat menghindarimu
Maafkan aku karna selama ini mencintaimu
Maafkan aku karna diam-diam masih merindukanmu
Maafkan aku karna cemburu melihatmu dengannya
Maafkan aku karna terbiasa menulis tentang kamu
Maafkan aku karna selalu menjadikan kamu isi dalam doaku
Maafkan aku karna aku suka bercerita tentangmu dengan senyum bahagia
Maafkan aku karna aku suka menangisimu
Maafkan aku karna aku tak bisa memahami rasa sakitmu
Maafkan aku atas semua ini
Aku mencintaimu :)

Aku ingin menjadi apapun

Aku sungguh ingin menjadi cita-citamu
Yang hanya kau gantungkan diawal sebagai sebuah proses untuk menggapaiku
Lalu hari demi hari berikutnya kamu akan berjuang sepenuh hati dan sekuat tenaga untuk menggapaiku
Aku sungguh ingin menjadi rumahmu
Yang mungkin kau tinggalkan namun akan selalu menjadi tujuanmu untuk kembali
Tak peduli seberapa jauh pun kamu pergi
Tak peduli seberapa lama pun aku harus menanti
Aku sungguh ingin menjadi udara
Yang tak terlihat dimatamu
Namun sangat kau butuhkan
Aku sungguh ingin menjadi apapun yang kamu butuhkan, apapun yang kamu cari, apapun yang kamu cintai....

Rindu Abadi

Aku menikmati waktu sendiriku
Aku tak pernah kesepian karna aku ditemani kenangan kita
Aku menikmati waktu sendiriku
Karna aku bisa bebas merindukan kamu
Aku merindukan kamu saat aku sendiri
Aku merindukan kamu saat aku berada ditengah keramaian
Aku merindukan kamu saat aku bersama yang lain
Aku merindukan kamu saat kamu ada bersamanya
Aku merindukan kamu saat kamu di kota lain
Aku merindukan kamu saat kamu tak dapat kulihat
Aku merindukan kamu saat kamu sibuk dengan duniamu
Aku merindukan kamu saat kamu didepanku
Aku tetap merindukanmu walaupun kamu disini
Karna aku tak dapat menggapaimu, bahkan dari jarak sedekat ini.

Senin, 21 Juli 2014

Aku Mencintaimu

Aku mencintaimu ketika kamu menyebut namaku untuk pertama kalinya
Aku mencintaimu ketika kamu mulai mengirimkan pesan singkat
Aku mencintaimu ketika aku melihat senyummu
Aku mencintaimu ketika kamu menyentuh pipiku pertama kali
Aku mencintaimu ketika kamu mengabaikan godaan temanku demi bersamaku
Aku mencintaimu bahkan ketika kamu menyuruhku menunggu, walau setelahnya kau hanya menyapaku sebentar dan kembali pada kesibukkanmu                     
Aku mencintaimu ketika kamu menyapaku dari kejauhan
Aku mencintaimu ketika kamu membuat kartu valentine untukku
Aku mencintaimu ketika kamu mengedipkan sebelah matamu untuk menggodaku disela kesibukanmu
Aku mencintaimu ketika kamu menjadikan fotoku sebagai wallpaper di handphone mu bahkan saat aku tidak bersamamu
Aku mencintaimu saat kita mengerjakan sesuatu bersama
Aku mencintaimu ketika kamu mengajariku sesuatu
Aku mencintaimu ketika kamu menegurku karna aku tak becus melakukannya
Aku mencintaimu saat aku melihatmu menaiki tangga itu dan aku berjalan di belakangmu
Aku mencintaimu saat kamu mencoba menyentuh jemariku walaupun aku menolaknya
Aku mencintaimu ketika kamu sakit
Aku mencintaimu ketika kamu akhirnya menemukan orang yang lebih baik dariku
Aku mencintaimu ketika kamu datang ke tempat pemutaran film
Aku mencintaimu ketika kamu memilih duduk didepanku
Aku mencintaimu ketika kamu sibuk dengan pekerjaanmu
Aku mencintaimu ketika aku melihat gambarmu dengannya
Aku mencintaimu ketika kamu       kembali sibuk dengan pekerjaanmu               
Aku mencintaimu ketika kamu masih sempat-sempatnya menggodaku
Aku mencintaimu ketika kamu bertanya padaku untuk apa menangisimu
Aku mencintaimu ketika kamu meminta aku mengambil gambarmu
Aku mencintaimu ketika kamu    tertidur di sela pekerjaanmu
Aku mencintaimu ketika aku harus pulang tanpa terlebih dulu bicara padamu
Aku mencintaimu ketika aku tahu kamu akan pindah ke kota lain
Aku mencintaimu ketika kamu pergi dan berjanji padaku, kelak kau akan kembali untukku
Aku mencintaimu ketika kamu datang ke kota kita
Aku mencintaimu ketika kamu menungguku kembali dari Bandung
Aku mencintaimu ketika kamu datang ke rumahku meski hanya untuk memberi buah tangan
Aku mencintaimu ketika aku datang ke kotamu
Aku mencintaimu ketika kamu memanggilku "sayang"
Aku mencintaimu ketika aku menunggumu di penginapan
Aku mencintaimu ketika aku panik kita tak dapat bertemu
Aku mencintaimu ketika kamu menyempatkan menemuiku siang itu di malioboro
Aku mencintaimu ketika kamu bilang kamu akan kembali pada bulan oktober
Aku mencintaimu ketika kamu pamit untuk pergi lagi
Aku mencintaimu ketika aku melihatmu berlari menjauh tanpa menoleh kebelakang
Aku mencintaimu ketika aku kembali lagi ke kotaku
Aku mencintaimu ketika kita masih saling mengirim pesan singkat
Aku mencintaimu ketika kamu datang ke kota kita lagi
Aku mencintaimu ketika kamu menghubungiku dan mengatakan kamu ingin bertemu denganku
Aku mencintaimu ketika aku tidak bisa datang karna ada janji yang lain
Aku mencintaimu ketika kamu berjanji akan melihat konser bersamaku
Aku mencintaimu ketika kamu bilang akan menjelaskan semuanya   
Aku mencintaimu ketika aku telah mengorbankan hubunganku demi mendengar penjelasanmu
Aku mencintaimu ketika aku diberitahu orang lain bahwa kamu tidak akan datang            
Aku mencintaimu ketika kamu benar-benar tidak datang
Aku mencintaimu ketika kamu tak bisa meluangkan 1 menit saja untuk mengirimkan pesan singkat
Aku mencintaimu ketika aku bisa kembali ke kotamu
Aku mencintaimu ketika teman-temanku memanggilmu
Aku mencintaimu ketika aku salah tingkah saat kamu menghampiriku
Aku mencintaimu ketika kamu bilang aku menjadi lebih kurus walaupun aku masih sama seperti dulu
Aku mencintaimu ketika lagi-lagi kamu harus pergi meninggalkan aku
Aku mencintaimu ketika kamu lagi-lagi kembali ke kota kita
Aku mencintaimu ketika aku menyempatkan diri datang ke sekolah
Aku mencintaimu ketika kamu bilang aku harus menunggu sebentar
Aku mencintaimu ketika kamu mengeluh sakit padaku
Aku mencintaimu ketika kamu melihatku bercanda dengan orang lain
Aku mencintaimu ketika kamu salah paham
Aku mencintaimu ketika kamu mengabaikan aku
Aku mencintaimu ketika kamu menjauhi aku
Aku mencintaimu ketika kamu mempertanyakan harga diriku
Aku mencintaimu ketika aku kehabisan kata untuk menjelaskan padamu
Aku mencintaimu ketika kamu menemukan orang lain lagi yang lebih baik dariku, yang memberikanmu kado spesial di hari ulang tahunmu
Aku mencintaimu ketika aku tak tau harus berbuat apa saat kamu masih mengabaikan aku
Aku mencintaimu bahkan ketika kamu tak ingin lagi mengenalku
Aku mencintaimu ketika tak ada ucapan darimu saat ulang tahunku
Aku mencintaimu meski setelah 6 bulan kamu tidak bicara padaku
Aku mencintaimu ketika akhirnya kamu kembali lagi ke kota kita meskipun aku hanya dapat melihatmu sebentar tanpa bicara
Aku mencintaimu ketika aku bilang pada orang lain kalau aku sudah melanjutkan hidupki
Aku mencintaimu ketika kamu menyapaku kembali dan menanyakan kabarku
Aku mencintaimu ketika aku berbohong dan mengatakan aku baik-baik saja
Aku mencintaimu ketika untuk kesekian kalinya kamu kembali ke kota kita
Aku mencintaimu meskipun aku tak disana
Aku mencintaimu ketika kamu mengeluh pada Tuhan saat kamu galau
Aku mencintaimu ketika kamu kembali menyapaku di sosial media setelah sekian lama
Aku mencintaimu selama ini
Aku masih mencintaimu setelah semua ini

Kamis, 10 Juli 2014

Mengingat Kamu

"Maaf ya aku sering bikin kamu kesel, sering marah-marahin kamu, padahal kamu cinta mati sama aku, harusnya aku bisa bahagiain kamu"
Kata-kata dari seorang tokoh fiktif di televisi inilah yang cukup menamparku. Bukan oleh kata-katanya, namun makna dari kata-kata itu. Alangkah berartinya kalimat itu jika kamu yang mengucapkannya. Seketika aku mengingat kamu. Seketika aku merindukan kamu. Seketika aku menyadari sesuatu, aku masih mencintaimu.

Senin, 30 Juni 2014

Rindu kamu

Dalam mimpiku, aku melihatmu.
Dalam mimpiku, kamu ingin berbicara denganku.
Dalam mimpiku, kamu mengejarku.
Namun semua hanya ada dalam mimpiku.

Aku melihatmu begitu nyata.
Mendengarmu begitu jelas.
Aku tak pernah tau rasanya menyentuhmu.
Namun aku tau mimpi itu, semu.

Mungkin aku tak pernah ragu menunggu.
Mungkin juga aku tak jemu meramu rindu.
Namun apa arti dari semuanya, jika kamu sudah tak ingin dijamu.

Rabu, 28 Mei 2014

Pria Itu

Aku jatuh cinta pada pria itu.
Pria bertubuh tinggi tegap.
Pria yang berbicara dengan emosi meluap-luap.
Pria yang kerap membuat jantungku berderap.

Aku jatuh cinta pada pria itu.
Pria dengan mata layu.
Pria dengan raut wajah lelah.

Aku jatuh cinta dengan pria itu.
Pria yang butuh lengan lengang untuk tubuhnya.
Pria yang butuh cinta sebelum ia renta.

Aku jatuh cinta pada pria itu.
Pria yang ada di depanku.
Membuat mata dan hatiku terpaku.

Selasa, 27 Mei 2014

Kenangan yang Kembali

Tatapan mata itu, membuat aku selalu ingin tertunduk.
Senyum yang lama tak kulihat itu, membuat hatiku kembali terketuk.

Aku tak ingin membukanya kembali.
Aku tak ingin jatuh terlalu jauh ke dalam kenangan yang memburu tak kenal jenuh.

Betapa aku ingin itu terulang namun aku tak sanggup tersakiti untuk yang kesekian kali.
Masa lalu adalah masa lalu.

Lanjutkanlah perjalanan yang telah jauh kau tempuh.
Carilah wanita sempurna itu.
Jangan pernah kembali kepada wanita ini.

Kau pernah mencabik hatinya dengan bengis.
Tanpa pernah melihatnya menangis.

Kau memanggilnya kembali.
Tanpa tau ada luka yang tergali.

Wanita ini lemah.
Meski terlihat tabah, tubuhnya butuh punggung tegap yang siap berdiri di depannya.
Menghalau kenangan yang kembali hanya untuk menyakiti.

Rindu terobati, tak begitu dengan sakit hatinya.
Tak diharapkan namun pasti akan kembali juga.
Tak dapat disangkal, bakal terluka juga.

Sabtu, 17 Mei 2014

Perasaan atau Keadaan?

Ada yang berbeda saat aku menatap matamu.
Ada yang berbeda dari caramu menasehatiku.
Perbedaan-perbedaan itu kian terasa untukku.

Tatap mataku semakin memuja.
Sorot mataku selalu mengekori sosokmu, seperti tak ingin kehilangan jejakmu.
Langkah kakiku pun sebenarnya selalu mengikuti langkah kakimu, walau tak kentara benar, walau kau tak menyadarinya.

Aku....
Aku sungguh tak mampu menyembunyikan ini lagi.
Namun kurasa, pengakuanku percuma.
Kau takkan mempercayaiku.

Kamu adalah mantan temanku.
Temanmu sekarang sedang dekat denganku.
Entah mengapa harus serumit ini.

Salah perasaanku kah?
Atau salah keadaan ini?

Kamis, 15 Mei 2014

Kembali ke Pertengahan Januari

Aku seperti pernah melihat raut wajah dan sorot mata seperti itu. Di pertengahan Januari waktu itu. Aku melihatnya dengan jelas, sejelas luka yang tergores di hatiku pada saat itu juga.

Kamu mengingatkanku pada kejadian itu. Padanya. Seseorang yang aku cintai benar. Seseorang yang akhirnya pergi tanpa pernah menoleh kebelakang.

Waktu itu, mungkin memang aku yang bersalah. Aku yang membuatnya bersedih. Namun kini, entah apa atau siapa yang membuatmu begini.

Seperti ingin menebus kesalahanku waktu itu padanya. Rasanya, aku ingin mengambil tempat di sebelahmu. Bertanya padamu "ada apa?". Mendengarkan keluh kesah yang mungkin akan kau tumpahkan. Tapi sepertinya takkan terjadi. Aku hanya dapat memandangimu resah. Pesan singkatku pun bahkan tak kau gubris.

Ku harap kau akan baik. Ku harap kau akan kembali dengan senyummu. Cepatlah pulih. Cepatlah bangkit.

Selasa, 06 Mei 2014

Tentang sebuah perjalanan

Beberapa hari yang lalu, aku mencoba membuat puisi sederhana tentang sebuah perjalanan. Aku tahu sayang, perjalanan kita sudah terlalu jauh. Namun kita belum juga menemukan akhir yang jelas. Sampai kita mendapatkan sebuah kesimpulan baru...kamu bahagia dengan jalanmu dan aku juga (terpaksa harus) bahagia dengan jalanku. Kita berpisah di persimpangan itu.

Aku bilang, perjalanan paling jauh adalah perjalanan menuju hatimu. Rasanya seperti mengikuti alur benang yang kusut. Sungguh tak kutemui ujungnya.

Aku juga bilang, jauhnya perjalanan Surabaya - Jogja tak sejauh harapanku padamu. Ah mungkin aku yang berharap terlalu jauh.

Kita memang telah berjalan jauh. Lebih dari 365 hari yang kita lewati. Lebih dari 12 kali bulan purnama kita lihat.
Aku sedih kita harus sampai di persimpangan itu.

Aku bilang, langkah yang kita ambil menentukan arah perjalanan kita. Kamu mengambil langkah yang lain, membuat kita berjalan ke arah yang berbeda.

Kamu menemukan seseorang baru yang bisa berjalan bersamamu ke arah yang kamu mau. Lalu aku bilang, sebuah perjalanan akan terasa sangat menyenangkan jika aku berjalan berdampingan denganmu ke arah yang sama, bukannya menyaksikan kamu berjalan dengannya ke arah yang berbeda dan meninggalkan aku di persimpangan itu.

Aku tak ingin sendirian menanti kamu disana. Karna aku tau, kamu tak akan kembali. Kini aku melanjutkan perjalananku sendiri. Jika dari tiap perjalanan akan ada kenangan, mungkin kini kamu adalah bagian dari kenangan itu.

Aku berjalan terus tanpa henti. Bukan aku tak kenal lelah. Aku hanya mencoba menjauh, kalau bisa sangat jauh dari persimpangan itu. Aku tak ingin mengingat hari dimana kamu meninggalkan aku. Tapi pada kenyataannya, disetiap langkahku, bayangmu selalu mengikuti aku.

Dalam tiap langkahku pun, aku tak pernah lupa mendoakanmu. Aku ingin kelak kita bertemu lagi, berjalan bersama lagi dan tak akan terpisah meskipun kita menemui banyak persimpangan.

Sampai kini jalan yang kita ambil dan kita tempuh masih belum mempertemukan kita kembali. Harus berjalan sejauh apalagi agar aku bisa kembali berjalan bersamamu?

Kau bilang, kamu sedang berlari di atas pecahan kaca diiringi tawa orang-orang yang melihatmu. Sesulit itu kah perjalananmu dengannya?

Jika kita tak berpisah di persimpangan itu, mungkin aku akan menemanimu berlari di atas pecahan kaca itu. Walau sesungguhnya aku tak suka berlari. Aku lebih suka berjalan dan menikmati.

Jika kita tak berpisah di persimpangan itu, mungkin kamu akan berjalan bersama denganku di jalan yang telah diberkati ini. Di jalan yang dimana aku banyak menemukan kesenangan. Walau kesenangan yang tak lengkap karna tanpamu.

Ah, apa gunanya menyesali sebuah perpisahan. Aku berjalan terus. Menajuh dari persimpangan jurang pemisah kita. Aku harap jalanmu segera membaik. Jika jodoh, sebuah persimpangan yang diberkati akan mempertemukan kita.

Selasa, 29 April 2014

Cinta Tak Takut

Jatuh cinta itu menakutkan.
Ketika kamu mulai merasakan cintanya.
Ketika kamu mulai merasa bahagia.
Ketika kamu mulai merasa terbang.
Jatuhnya sudah menanti kamu.
Sakitnya sudah bersiap menangkapmu.
Laranya sudah siap menikam hatimu.

Jatuh cinta itu menakutkan.
Ketika kamu mulai merasa memilikinya.
Ketika kamu merasa lengkap.
Kehilangan sudah mengintaimu.
Kehampaan sudah siap menangkapmu, membekapmu sampai tak sanggup bernafas.

Sudah seperti siang dan malam.
Kebahagiaan dan kesedihan juga akan selalu berdampingan.
Terlalu bahagia sampai ingin terbang.
Terlalu sedih sampai ingin mengubur diri dalam tanah.

Aku takut percaya lagi.
Karna kekecewaan akan datang mengiringinya.
Aku takut jatuh lagi.
Karna kesakitan akan mengikuti di belakangnya.

Namun cinta tak pernah takut datang lagi.

Kamis, 24 April 2014

Kabarmu?

Apa kabar kamu, pria yang tak berkabar?
Sehatkah? Atau sakitkah?

Semalam aku memimpikan kamu.
Aku melihatmu terbaring lemah, namun aku tak tahu benar keadaanmu sebenarnya.

Bolehkah aku meneleponmu?
Jika tidak, paling tidak biarkan aku mengirimkan sebuah pesan singkat.
Ataukah aku hanya boleh berdoa untukmu lalu menunggu kabarmu lewat mimpi?

Bagaimana dengan surat rinduku? Sudahkah kau membalasnya?
Atau bahkan kau belum menerimanya?
Tak apalah, tak usah kau hiraukan surat rindu itu. Cepatlah berkabar. Aku harap kamu sehat. :)

Selasa, 22 April 2014

Siapakah Kamu ?!

Siapakah kamu sampai kamu berani menghakiminya?
Siapakah kamu berhak menilainya?
Tak berdosakah kamu sampai kamu menghujat dia di belakangnya?
Cukup baikkah kamu sampai kamu menilainya jahat?

Tak pernahkah kamu berkaca?
Kamu tak lebih baik darinya.
Kamu bilang dia tak punya hati karena menyakitiku.
Bagaimana denganmu?
Apa kamu yakin apa yang kamu lakukan tak menyakiti orang lain?

Kamu bilang cinta saya buta?
Mungkin iya. Namun saya tak munafik untuk memungkirinya.
Saya tak seperti kamu, memungkiri bahwa kamu sama saja dengannya.

Siapakah kamu beraninya bertanya dia itu siapa?
Hanya aku yang tahu soal itu dan biarkan itu menjadi rahasiaku.
Pertanyaannya adalah siapakah kamu sampai kamu masuk terlalu jauh dalam hubungan kami, merusaknya lalu pergi. Siapakah kamu?

Tentang Rindu Saya Kepada Kamu

Saya mencoba mencari Dia yang menciptakan kamu. Saya mengadu sedikit padaNya bahwa saya merindukan kamu. Saya percaya Dia tahu lebih banyak. Saya yakin Dia punya rencana lebih baik untuk kita.

Saya sangat sangat merindukan kamu, lebih daripada tanaman merindukan tetesan hujan pada musim kemarau. Semakin saya mencoba menyangkal, semakin rindu ini menjadi dalam.

Saya rindu sapaanmu meski hanya lewat pesan singkat. Meski saya harus terkantuk menantinya.

Saya rindu pertemuan kita, meski hanya beberapa detik aku dapat menatap wajahmu.

Ini bukan khayal, karna kamu bukan tokoh fiksi. Perasaan saya tak dangkal. Saya mencintaimu bukan karna fisik.

Perasaan saya jelas dan rindu ini nyata. Rindu ini tak menuntut balas. Rindu ini bukanlah dendam yang perlu balas para pembenci. Rindu ini tulus dari seorang pencinta. Rindu sepihak oleh pencinta sendiri. Rindu yang tertahan dalam diam. Rindu yang tertumpah dalam air mata.

Kamis, 13 Maret 2014

LELAH

Kepalaku lelah mikirin kamu.
Mataku lelah ngeliatin handphone yang selalu sepi dari pesan-pesanmu. Nahan nangis kalo kangen kamu.
Telingaku lelah menunggu untuk denger suara kamu.
Bibirku lelah melafalkan doa untuk kamu.
Jari tanganku lelah ngodein kamu lewat tiap tweet yang aku post.
Kakiku lelah harus berdiri sendirian tanpa kamu.
Hatiku yang paling lelah. Hati aku lelah menunggu kamu kembali.
Tapi karna banyaknya kelelahan itu, bukan berarti aku akan menyerah dab berhenti.
Aku masih mencintai dan menunggumu.

Jumat, 07 Maret 2014

Kamu dan matahari

Sudah terlalu banyak yang kutulis
Namun tak benar-benar mewakili perasaanku
Tak juga dapat menyentuh hatimu
Lalu aku harus bagaimana lagi agar hatimu tersentuh?

Ingin menggapaimu
Sama seperti ingin menggapai matahari
Terlalu sulit
Terlalu jauh

Berusaha menyentuhmu
Sama seperti bunuh diri
Baru saja mendekat
Hatiku sudah terbakar

Meskipun kini aku berusaha menjauh
Lukanya masih ada
Masih terasa panas dan perih
Harus dengan apa aku mengobatinya?

Semakin lelah dan menyerah

Yang aku lakukan selama kamu pergi adalah menunggu kamu...
Menunggu kamu memberi kabar
Menunggu kamu merindukan aku
Menunggu kamu kembali

Hingga...
Satu pertanyaan muncul di benakku
Sampai kapan aku terus menunggu?

Satu pertanyaan yang disusul dengan pertanyaan lain
Kapan kamu kembali?
Bukankah cinta tak terpisahkan oleh jarak?
Mengapa jarak jadi masalah sekarang?

Aku hanya manusia biasa, dam.
Aku juga bisa lelah
Sekuat apapun aku bertahan
Selama apapun aku menunggu

Bukankah akan menjadi sia-sia nantinya?
Jika kamu tidak pernah menoleh kearahku
Jika kamu tidak pernah mencintai aku

Meskipun aku punya banyak alasan untuk pergi...
Nyatanya aku tetap tinggal
Nyatanya aku tetap menunggu

Namun kini aku sadar satu hal
Aku punya kehidupanku sendiri
Dan aku harus mulai memikirkannya

Jika kamu memang mencintaiku
Kamu akan mencariku
Kalaupun tidak...
Aku tahu dimana aku berdiri

Hal terakhir yang harus kamu tahu
Selama satu tahun ini aku mencintai kamu dengan tulus
Mungkin ini adalah batas akhirku
Aku menyerah....

(Untuk manusia ciptaan Tuhan bernama Adam...yang mungkin tak sempurna namun memberi inspirasi)

Wanita itu aku

Kapan kamu bisa melihat ketitik yang tepat?
Kapan kamu bisa berjalan ke arah yang benar?
Tak tahukah kamu...
Wanita yang paling bodoh ini adalah wanita yang paling tulus mencintai kamu

Wanita yang tidak pernah menangis di hadapanmu
Meskipun kau terus menerus ingkar janji dan menorehkan luka-luka baru tiap kali kalian bertemu

Wanita yang tidak pernah ingin mengganggumu
Walaupun dia harus mati tenggelam dalam kerinduan

Wanita yang sabar menanti kabarmu
Meskipun kamu tidak pernah mengingatnya saat melakukan apapun

Kau tenggelam dalam kesibukanmu
Dan dia tenggelam dalam kerinduannya
Jika kamu memilih tak peduli dan dia tetap memilih diam
Kapan kaliab bertemu?

Rumit

Semudah inikah kamu melupakan aku?
Semudah inikah kamu meninggalkan aku?
Berlari ke arah lain
Membiarkan aku tersesat sendiri

Padahal, aku tak pernah benar-benar merasakan cinta sedalam ini
Tak pernah benar-benar merasakan rindu segila ini
Perasaan ini terlalu rumit
Sampai-sampai bisa mengacaukan isi kepalaku

Mencintaimu sama seperti memeluk kaktus
Merindukanmu sama seperti memancing di danau kering
Dan menantimu...
Sama seperti menanti pangeran dengan kuda putih di dunia nyata

Terlalu sakit...
Sia-sia...
Dan mustahil...

Lelah

Mimpi kita saat itu terlalu jauh
Khayalan kita terlalu tinggi
Padahal kita berdua sama-sama tahu
Tak mungkin ada penyatuan  diantara kita

Semakin hari, semua ini terasa semakin berat
Bukannya pesimis, tapi semua ini jadi terasa sia-sia
Apa kini aku berjuang sendirian?
Apa kini kau mulai tak peduli?

Sayang aku lelah...
Aku butuh pundak untuk bersandar
Melepas semua bebanku yang mungkin kutuangkan dalam air mata
Tapi apakah mungkin itu pundakmu?

Cinta

Mungkin aku memang salah
Mungkin aku mengecewakanmu
Tapi, bukankah tiap orang boleh mendapatkan kesempatan kedua?

Sayang, setiap orang pernah salah
Kau pun begitu
Aku pun juga pernah kecewa karnamu

Tapi bukankah cinta itu memaklumi?
Bukankah cinta itu memahami?
Dan bukankah cinta itu memaafkan?

Memaafkan seseorang memang bukan hal mudah
Tapi percayalah cinta bisa melakukannya
Karna cinta adalah keajaiban

Jangan goyah ketika seseorang meneriakimu bodoh
Karna dari kebodohan itu, kita bisa melihat ketulusan cinta

Cinta itu sederhana tapi nyata :)

Menjauh

Tak mudah bagiku membiasakan diri tanpa hadirmu.
Tak mudah pula bagiku tak menerima kabar darimu.

Hal paling sulit yang kini harus kulakukan
Bukan karna aku ingin
Tapi karna kamu....
Sikapmu seolah mengisyaratkan itu

Sepertinya kamu ingin aku menjauh dan melupakanmu
Aku akan mencobanya
Tak apalah jika aku terluka tapi bisa membuatmu bahagia

Memimpikan kamu lagi

Malam ini, kamu hadir lagi di mimpiku.
Entah kebetulan atau bukan...

Aku sudah berusaha melupakanmu, namun tak berhasil.
Bayang-bayangmu masih mengisi hari-hariku.
Suaramu masih kurindukan.
Ingin rasanya memanggilmu kembali kesini...kedalam pelukan.

Rabu, 05 Maret 2014

Tidak adil !!

Orang yang seharusnya merasakan hal yang sama denganku, kini masih berbahagia dengan kekasihnya.
Orang yang menyebabkan aku kehilangan orang yang sangat aku cintai, kini masih memiliki orang yang dicintainya.
Kenapa dunia ini tidak pernah adil? Aku ingin dia merasakannya juga agar dia tidak semudah itu merusak apa yang selama ini kubangun dengan susah payah.
Penantian sulit hampir satu tahun sekarang menjadi sia-sia, bahkan jejak penantian itu pun tak lagi terlihat di matanya, orang yang aku cintai.
Dan dia, orang yang menghancurkannya....harusnya dia lah yang kini terpuruk dan sedih, agar dia merasakan beratnya menjadi aku akhir-akhir ini.

Selasa, 04 Maret 2014

Sepenggal Khayalan

Aku pernah berkhayal...
Jika suatu hari nanti kita menikah dan memiliki anak perempuan, aku akan menamai dia, hawa.
Alasannya? Sederhana.
Adam adalah manusia pertama di bumi. Hawa diciptakan untuk Adam. Pada saat itu di bumi hanya ada 2 manusia. Aku ingin, kelak ketika kamu bersama dengan aku dan kita memiliki seorang malaikat kecil, kamu tidak akan pernah tergoda dengan wanita lain dan memilih pergi.
Aku ingin kamu mengingat Hawa. Aku ingin kamu mengingat bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusukmu. Dan aku ingin kamu mengingat bahwa kalian ditakdirkan untuk bersama-sama.
Kamu tidak akan mengkhianati hawa kan? Kamu tidak mungkin melukai perasaan seorang anak kecil kan?
Jika kamu telah terbiasa melukai aku, jangan lakukan itu pada anak kita kelak. Mungkin aku bukan hawa yang kamu harapkan. Namun hawa yang akan lahir diantara kita, itu adalah buah cinta kita. Wujud nyata dari perasaan kita. Penyempurna bagi kita. :)

Minggu, 02 Maret 2014

Karma

Awalnya aku mengira kamu adalah sahabat terbaikku. Aku mempercayakan ceritaku padamu, berharap kamu bisa memahaminya. Kita berteman dan kita baik-baik saja. Sampai dia yang aku cintai salah memahami kedekatan kita. Dia pergi meninggalkan aku dan membiarkan aku terpuruk sendirian. Aku kira sahabat yang baik seharus ya membantu memberikan pengertian padanya. Sebagai sesama pria bukankah lebih mudah untuk saling memahami?
Nyatanya kamu tidak begitu, teman. Kamu tidak membantuku. Kamu malah membiarkannya pergi menjauh dariku. Jika kamu benar-benar sahabatku, kamu harusnya tahu kalau itu akan menghancurkan aku. Kepergiannya mengacaukan aku, tapi apa pedulimu? Kau malah sibuk dengan kekasihmu dan tak sedikitpun tertarik mendengarkan cerita tentang seberapa hancurnya aku ditinggalkan olehnya.
Kini kekasihmu juga salah paham dengan kehadiranku. Aku tak bermaksud untuk menjauh namun aku cukup cerdas untuk mengerti kemauannya. Namun jika dia tidak ingin kembali padamu, mungkin itu yang seharusnya kamu rasakan. Kamu juga harus tahu apa yang aku rasakan. Kamu harus tahu, semudah kamu melepaskan tangan dari tanggung jawabmu untuk membantuku menjelaskan padanya, semudah itu pula karma membuatmu merasakan hal yang sama denganku.

Butuh Waktu

Mencintai seseorang yang tidak kita cintai sama sulitnya seperti mencoba melupakan seseorang yang kita cintai.
Menghadapi salah satunya saja sudah berat, apalagi keduanya.
Aku benar-benar butuh waktu sendirian agar tidak ada yang meracuni pikiranku dan membuat aku semakin bingung.
Yang satu ingin aku begini, yang lain lagi ingin aku begitu. Aku yang menjalani, aku pula yang tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya butuh waktu berpikir.
Setidaknya agar aku lebih mudah memutuskan siapa yang akan bersamaku untuk kedepannya. Ataukah aku akan berjalan sendirian.

Sabtu, 01 Maret 2014

Kosong

Rasanya otakku mulai buntu....
Begitu sulit membayangkan apa yang ingin aku tuliskan....
Pikiranku seolah kosong...
Sama seperti hatiku yang kosong semenjak kamu pergi.

Sulit memang ketika aku harus kehilangan seseorang yang menjadi inspirasi bagiku...
Kebahagian ataupun kesedihan yang kau ciptakan akan selalu membuatku berfikir...
Membuatku menumpahkan tinta hitam diatas kertas putih...
Tapi kini kertas putih itu kosong...
Kau seolah mengambil alih semua pikiranku...
Entah kau bawa kemana, tapi yang aku tau kini pikiranku kosong...

Jika kau memang tak bisa kembali padaku....setidaknya kembalikan hatiku dan pikiran normalku agar aku tidak perlu sekacau ini saat kamu tak disini...
Agar aku tak perlu merindu terlalu dalam ketika kamu tak meberi kabar.

Jumat, 21 Februari 2014

Memimpikan kamu

Lama tak bicara denganmu, semalam aku memimpikan kamu...
Sadarkah kamu, begitu sulit bagiku untuk bertahan sendirian di sini tanpa kamu...
Sulit untukku menghindari pertanyaan bodoh mereka. Mereka selalu bertanya padaku tentang kamu, seolah mereka lupa aku hanya bagian dari masa lalu mu...
Aku hanya seorang gadis yang jauh tertinggal di masa lalu mu...
Gadis yang tak tahu bagaimana melanjutkan hidup ketika kau meninggalkannya dan dia mejadi tersesat...
Maukah kamu kembali menjemputku?
Meskipun kamu hanya hadir di mimpi, percayalah aku bahagia bisa melihatmu lagi :')

Sabtu, 18 Januari 2014

mimpi



Kamu menggendongku, membaringkan aku di tempat tidur dan menciumku dengan manis. Ya, kamu melakukannya disaat terburukku. Saat kita sama-sama tahu aku takkan bisa bertahan lebih lama. Kamu berubah menjadi pangeran yang selama ini aku impikan. Bukan wajahmu yang berubah, sayang. Tapi caramu memperlakukanku. Sangat manis.

Aku terlelap dengan senyuman di wajahku dan aku terbangun dengan perasaan lebih baik, bahkan aku merasa sangat sehat. Perasaanku sangat sehat, berbanding terbalik dengan tubuhku. Kamu datang dengan semangkuk bubur di tangan kananmu dan segelas air putih di tangan kirimu. Belum sempat aku merasakan dimanja olehmu, alarmku sudah berbunyi. Aku hanya bermimpi. Entah ini adalah mimpi yang indah atau mimpi buruk. Mimpi itu membuatku merasa tak karuan. Aku senang pernah merasakan perhatianmu yang begitu dalam walau hanya lewat mimpi, namun  mimpi ini mendorongku masuk ke dalam jurang kerinduan yang dalam.

Aku benar-benar ingin bertemu denganmu lagi. Ya, lagi, dan kali ini kuharap lebih lama. Aku ingin bicara denganmu tentang perasaanku, mungkin juga perasaanmu, dan tentang kita. Topik pembicaraan yang dalam, namun dibutuhkan agar semua ini jelas. Bukankah sangat sakit ketika seseorang bertanya pada kita, apa hubungan kita sebenarnya dan kita hanya bisa tersenyum. Tersenyum pahit. Menahan perasaan dan keinginan saling memiliki. Munafik, ketika seseorang bilang cinta tak harus memiliki. Kita akan sangat tersiksa ketika kita tidak bisa memiliki orang yang kita cintai.

Kamu pernah berjanji padaku akan menjelaskan semuanya ketika kamu kembali. Tapi sekarang apa? Apa yang bisa kau jelaskan? Tidak ada. Kamu hanya datang sebentar lalu pergi. Aku mencoba memulai pembahasan itu dan dari situlah aku tahu, kamu sudah melupakannya. Hampir satu tahun aku menanti penjelasan itu dan kamu dengan mudahnya melupakan apa yang ingin kamu katakan, apa yang dulu kamu bilang penting, apa yang dulu kamu bilang tentang kita. Aku menyesal percaya padamu. Aku benar-benar bodoh terus menantimu. Aku tahu. Aku sadar. Tapi mungkin aku akan terus menantimu seperti orang bodoh. Aku tidak peduli. Cepatlah sadar, sayang. Sebelum waktu yang akan menyadarkan aku dan membawaku pergi jauh darimu.

Tulisan sederhana ini kutulis sepenuh hati, dengan air mata di pipi dan diiringi lagu-lagu sedih.

Kamis, 16 Januari 2014

4 Tahun Lagi



Aku sudah mengatakan ini berkali-kali. Namun mungkin ini untuk yang terakhir kali. Aku ingin mengingatkan kalau, aku sayang kamu. Aku sering mendengar ucapan rindu darimu namun tak pernah mendengar kamu mengatakan “aku sayang kamu juga” atau “aku sayang kamu lebih”. Bukan maksudku menuntut kamu harus mencintaiku sama seperti aku mencintaimu. Aku tahu yang kau inginkan  dan butuhkan. Sosok dirinya yang tidak pernah ada padaku.

Ini bukan pilihanku untuk tetap mencintaimu, tapi kamu perlu tahu, ini pilihanku untuk tetap menantimu. Aku bisa saja menjauh darimu dan memulai cinta yang lain. Ya, sepertinya aku bisa. Aku pernah mencobanya dan hampir berhasil ketika kamu hadir lagi dan membisikkan kata rindu. Kata yang tak begitu bermakna bagi mereka yang tak benar-benar pernah merasakan jarak. Berbeda denganku yang tidak bisa setiap hari menatap wajahmu, melihat senyummu, mendengar suaramu, bahkan mengetahui kabarmu dari pesan singkat.

Satu kata itu dapat membuatku terbang begitu tinggi, tertawa begitu bahagia, tersenyum dengan sangat puas. Satu kata itu membuatku merasa penantianku tak sia-sia. Aku pernah ke kotamu. Kamu menghujani ponselku dengan pesan-pesan singkat yang manis. Aku kira kamu benar menungguku, benar ingin bertemu aku dan bicara denganku. Tak sampai satu menit, semua kembali seperti dulu. Kamu pergi, tanpa kabar, yang ada hanya si bodoh (baca : aku) yang selalu menanti kabarmu dan kehadiranmu. Terakhir aku ke kotamu, kejadian itu terulang lagi. Satu menit yang benar-benar membunuh. Hanya bisa melihatmu tanpa bisa bicara banyak. Padahal aku ingin sekali memelukmu, menceritakan betapa aku benar-benar menanti hari ini. Sayangnya masih ada jarak tak terlihat diantara kita.

Kini kamu yang ke kotaku. Bodohnya, aku tak pernah bisa ada waktu untukmu. Kita masih punya janji jalan berdua, tapi sampai kini kita hanya bisa menyimpan janji itu. Mungkn bagimu pergi keluar dan menonton film pilihan adalah hal biasa, tapi bagiku itu berbeda jika denganmu. Keadaanku tak pernah memungkinkan aku untuk pergi denganmu. Entah sampai kapan janji itu terus menggantung.

Sedih rasanya ketika kita bisa berada di kota yang sama tapi tak bisa selalu berdekatan. Tapi lebih sedih lagi ketika kita berdekatan tapi tak bisa banyak bicara. Ada jarak yang menghalangi. Bukan jarak dengan hitungan kilometer. Jarak ini lebih buruk dari itu. Kesalahpahaman antara kita. Kita butuh bicara berdua, meluruskan semua persepsi yang ada. Persepsi kita masing-masing yang semakin membuat jarak antara kita. Kita benar-benar butuh waktu dan sampai waktu itu datang, aku ingin kamu tahu, aku selalu menunggu kamu. Aku akan ingat janji yang kamu ucapkan "Ketika aku kembali 4 tahun lagi, aku kembali untukmu.".

Sabtu, 11 Januari 2014

ragu. rindu.



Ada dua sisi dalam diriku. Yang pertama, mencintaimu utuh, mempercayai hembusan-hembusan harap yang kau tiupkan padaku. Yang kedua, tetap mencintaimu utuh namun meragukanmu dalam hal keseriusan dan kesetiaan.
Setiap aku mengingat pertemuan-pertemuan singkat kita dan membaca pesan singkat yang benar-benar singkat antara kita, aku semakin merasa aku sudah jahat padamu. Ketika aku merindukanmu, kamu selalu menyambutku baik dan manis. Menyempatkan waktu untuk bertatap muka denganku walau hanya beberapa detik. Tapi sayang, saat kamu bilang kamu merindukan dan membutuhkanku, aku tidak pernah ada waktu untukmu.
Aku ingin kamu mengerti satu hal. Setelah semua yang kita lalui, aku masih ragu membuka hatiku sepenuhnya untukmu. Aku takut kamu akan meninggalkan aku seperti dulu lagi. Seperti saat kamu menemukan wanita yang lebih cantik dan dewasa seperti yang kamu harapkan.
Aku juga tak berani terlalu berharap bahwa semua janji-janjimu akan benar kau tepati. Masih beberapa tahun lagi baru kau akan kembali dan disana kamu akan bertemu banyak orang baru. Hmm wanita baru tepatnya. Mungkin salah satu dari mereka akan kembali merebutmu dari khayalanku? Aku tak tahu pasti. Aku hanya berharap kamu mendapat yang terbaik.
Setelah dua bulan mencoba melupakanmu, menghapuskan kenangan-kenangan diantara kita, ini semua terasa sia-sia. Hari ini aku kembali memikirkanmu, sebagai bahan pertimbanganku, sebagai orang yang kurindukan dan sebagai orang yang kunantikan kehadirannya.
Mungkin saat aku menulis ini, kamu sedang dalam perjalanan menuju kota tempat kita bertemu. Kota yang panas namun kau buat sejuk dengan senyummu yang khas. Sayang, apa kau ingin kembali kepadaku? Atau kau hanya merindukan teman-temanmu?  Tak peduli yang mana, aku harap kamu menyisihkan sedikit waktu untukku yang kau bilang kaurindukan sejak dulu.