Sabtu, 18 Januari 2014

mimpi



Kamu menggendongku, membaringkan aku di tempat tidur dan menciumku dengan manis. Ya, kamu melakukannya disaat terburukku. Saat kita sama-sama tahu aku takkan bisa bertahan lebih lama. Kamu berubah menjadi pangeran yang selama ini aku impikan. Bukan wajahmu yang berubah, sayang. Tapi caramu memperlakukanku. Sangat manis.

Aku terlelap dengan senyuman di wajahku dan aku terbangun dengan perasaan lebih baik, bahkan aku merasa sangat sehat. Perasaanku sangat sehat, berbanding terbalik dengan tubuhku. Kamu datang dengan semangkuk bubur di tangan kananmu dan segelas air putih di tangan kirimu. Belum sempat aku merasakan dimanja olehmu, alarmku sudah berbunyi. Aku hanya bermimpi. Entah ini adalah mimpi yang indah atau mimpi buruk. Mimpi itu membuatku merasa tak karuan. Aku senang pernah merasakan perhatianmu yang begitu dalam walau hanya lewat mimpi, namun  mimpi ini mendorongku masuk ke dalam jurang kerinduan yang dalam.

Aku benar-benar ingin bertemu denganmu lagi. Ya, lagi, dan kali ini kuharap lebih lama. Aku ingin bicara denganmu tentang perasaanku, mungkin juga perasaanmu, dan tentang kita. Topik pembicaraan yang dalam, namun dibutuhkan agar semua ini jelas. Bukankah sangat sakit ketika seseorang bertanya pada kita, apa hubungan kita sebenarnya dan kita hanya bisa tersenyum. Tersenyum pahit. Menahan perasaan dan keinginan saling memiliki. Munafik, ketika seseorang bilang cinta tak harus memiliki. Kita akan sangat tersiksa ketika kita tidak bisa memiliki orang yang kita cintai.

Kamu pernah berjanji padaku akan menjelaskan semuanya ketika kamu kembali. Tapi sekarang apa? Apa yang bisa kau jelaskan? Tidak ada. Kamu hanya datang sebentar lalu pergi. Aku mencoba memulai pembahasan itu dan dari situlah aku tahu, kamu sudah melupakannya. Hampir satu tahun aku menanti penjelasan itu dan kamu dengan mudahnya melupakan apa yang ingin kamu katakan, apa yang dulu kamu bilang penting, apa yang dulu kamu bilang tentang kita. Aku menyesal percaya padamu. Aku benar-benar bodoh terus menantimu. Aku tahu. Aku sadar. Tapi mungkin aku akan terus menantimu seperti orang bodoh. Aku tidak peduli. Cepatlah sadar, sayang. Sebelum waktu yang akan menyadarkan aku dan membawaku pergi jauh darimu.

Tulisan sederhana ini kutulis sepenuh hati, dengan air mata di pipi dan diiringi lagu-lagu sedih.

Kamis, 16 Januari 2014

4 Tahun Lagi



Aku sudah mengatakan ini berkali-kali. Namun mungkin ini untuk yang terakhir kali. Aku ingin mengingatkan kalau, aku sayang kamu. Aku sering mendengar ucapan rindu darimu namun tak pernah mendengar kamu mengatakan “aku sayang kamu juga” atau “aku sayang kamu lebih”. Bukan maksudku menuntut kamu harus mencintaiku sama seperti aku mencintaimu. Aku tahu yang kau inginkan  dan butuhkan. Sosok dirinya yang tidak pernah ada padaku.

Ini bukan pilihanku untuk tetap mencintaimu, tapi kamu perlu tahu, ini pilihanku untuk tetap menantimu. Aku bisa saja menjauh darimu dan memulai cinta yang lain. Ya, sepertinya aku bisa. Aku pernah mencobanya dan hampir berhasil ketika kamu hadir lagi dan membisikkan kata rindu. Kata yang tak begitu bermakna bagi mereka yang tak benar-benar pernah merasakan jarak. Berbeda denganku yang tidak bisa setiap hari menatap wajahmu, melihat senyummu, mendengar suaramu, bahkan mengetahui kabarmu dari pesan singkat.

Satu kata itu dapat membuatku terbang begitu tinggi, tertawa begitu bahagia, tersenyum dengan sangat puas. Satu kata itu membuatku merasa penantianku tak sia-sia. Aku pernah ke kotamu. Kamu menghujani ponselku dengan pesan-pesan singkat yang manis. Aku kira kamu benar menungguku, benar ingin bertemu aku dan bicara denganku. Tak sampai satu menit, semua kembali seperti dulu. Kamu pergi, tanpa kabar, yang ada hanya si bodoh (baca : aku) yang selalu menanti kabarmu dan kehadiranmu. Terakhir aku ke kotamu, kejadian itu terulang lagi. Satu menit yang benar-benar membunuh. Hanya bisa melihatmu tanpa bisa bicara banyak. Padahal aku ingin sekali memelukmu, menceritakan betapa aku benar-benar menanti hari ini. Sayangnya masih ada jarak tak terlihat diantara kita.

Kini kamu yang ke kotaku. Bodohnya, aku tak pernah bisa ada waktu untukmu. Kita masih punya janji jalan berdua, tapi sampai kini kita hanya bisa menyimpan janji itu. Mungkn bagimu pergi keluar dan menonton film pilihan adalah hal biasa, tapi bagiku itu berbeda jika denganmu. Keadaanku tak pernah memungkinkan aku untuk pergi denganmu. Entah sampai kapan janji itu terus menggantung.

Sedih rasanya ketika kita bisa berada di kota yang sama tapi tak bisa selalu berdekatan. Tapi lebih sedih lagi ketika kita berdekatan tapi tak bisa banyak bicara. Ada jarak yang menghalangi. Bukan jarak dengan hitungan kilometer. Jarak ini lebih buruk dari itu. Kesalahpahaman antara kita. Kita butuh bicara berdua, meluruskan semua persepsi yang ada. Persepsi kita masing-masing yang semakin membuat jarak antara kita. Kita benar-benar butuh waktu dan sampai waktu itu datang, aku ingin kamu tahu, aku selalu menunggu kamu. Aku akan ingat janji yang kamu ucapkan "Ketika aku kembali 4 tahun lagi, aku kembali untukmu.".

Sabtu, 11 Januari 2014

ragu. rindu.



Ada dua sisi dalam diriku. Yang pertama, mencintaimu utuh, mempercayai hembusan-hembusan harap yang kau tiupkan padaku. Yang kedua, tetap mencintaimu utuh namun meragukanmu dalam hal keseriusan dan kesetiaan.
Setiap aku mengingat pertemuan-pertemuan singkat kita dan membaca pesan singkat yang benar-benar singkat antara kita, aku semakin merasa aku sudah jahat padamu. Ketika aku merindukanmu, kamu selalu menyambutku baik dan manis. Menyempatkan waktu untuk bertatap muka denganku walau hanya beberapa detik. Tapi sayang, saat kamu bilang kamu merindukan dan membutuhkanku, aku tidak pernah ada waktu untukmu.
Aku ingin kamu mengerti satu hal. Setelah semua yang kita lalui, aku masih ragu membuka hatiku sepenuhnya untukmu. Aku takut kamu akan meninggalkan aku seperti dulu lagi. Seperti saat kamu menemukan wanita yang lebih cantik dan dewasa seperti yang kamu harapkan.
Aku juga tak berani terlalu berharap bahwa semua janji-janjimu akan benar kau tepati. Masih beberapa tahun lagi baru kau akan kembali dan disana kamu akan bertemu banyak orang baru. Hmm wanita baru tepatnya. Mungkin salah satu dari mereka akan kembali merebutmu dari khayalanku? Aku tak tahu pasti. Aku hanya berharap kamu mendapat yang terbaik.
Setelah dua bulan mencoba melupakanmu, menghapuskan kenangan-kenangan diantara kita, ini semua terasa sia-sia. Hari ini aku kembali memikirkanmu, sebagai bahan pertimbanganku, sebagai orang yang kurindukan dan sebagai orang yang kunantikan kehadirannya.
Mungkin saat aku menulis ini, kamu sedang dalam perjalanan menuju kota tempat kita bertemu. Kota yang panas namun kau buat sejuk dengan senyummu yang khas. Sayang, apa kau ingin kembali kepadaku? Atau kau hanya merindukan teman-temanmu?  Tak peduli yang mana, aku harap kamu menyisihkan sedikit waktu untukku yang kau bilang kaurindukan sejak dulu.