Aku
tidak tahu apa otakku masih berfungsi dengan baik atau tidak. Setelah berhasil
melupakan perasaan ini, setelah berhasil melalui hari-hari tanpamu, aku masih
sangat ingin bertemu denganmu. Banyak yang aku ingin sampaikan, mungkin terlalu
banyak. Kerinduan yang menggebu-gebu ini mengharapkan pertemuan nyata setelah
kata-kata rindu yang sama-sama kita ungkapkan dalam pesan singkat beberapa hari
terakhir ini. Aku tidak biasanya begini, berani mengungkapkan rindu dan
menunjukkan betapa aku mencintaimu. Walaupun kutunjukkan dengan kata-kata,
percayalah sayang, rindu dan cinta itu sungguh ada.
Aku
datang padamu sayang, berharap bisa melepaskan rindu ini secepat mungkin. Kamu
pun juga terlihat tak sabar. Kata-katamu menggambarkan kerinduan yang sama. Aku
senang rindu ini bukan hanya milikku, bukan hanya milikmu, tapi rindu ini milik
kita. Aku rasa ini akan menjadi agak sulit. Ayah membawaku ke tempat yang jauh,
sangat jauh. Aku sangat takut kamu tidak
datang. Bukan karna kamu tak ingin, tapi karna kamu tak bisa. Terlalu banyak
rintangan untuk tiba kesini. Bahkan memberi kabar padamu pun menjadi sulit.
Ayah bilang kamu tidak akan datang, tidak akan pernah.
Aku
menunggumu di tepi pantai malam ini, mendengar suara ombak, berharap setelahnya
muncul suaramu memanggil namaku dan ketika aku membalikkan badanku, aku akan
melihatmu berlari mendatangiku, memelukku erat, melepaskan rindu yang lama
tertahan dalam hati. Sedih, bukan suaramu yang memanggilku melainkan nada
dering telepon yang berbunyi memecah keheningan di tepi pantai ini. Ayah benar,
kamu tidak datang. Kamu menjanjikan pertemuan itu esok hari. Aku menjatuhkan
diri di tempat tidur dengan kecewa. Ingin menangis tapi tak ingin membuat
mereka khawatir. Malam jadi terasa jauh lebih panjang.
Pagi-pagi
buta aku sudah terbangun, berharap bisa bertatap muka dengan kamu lebih cepat.
Pantai menjadi tempat pelarianku. Menunggu matahari terbit sambil mendengarkan
suara ombak, merasakan butiran pasir halus dibawah kakiku, meninggalkan
jejak-jejak kaki disana, merasakan air laut menyapu butiran-butiran pasir itu
dari kakiku saat ombak kecil tiba. Rasa dingin menembus tulangku. Aku suka itu,
aku harap angin membawa rindu yang ada di dalam diriku padamu dan membuat kamu merasakan
rindu ini lebih dalam. Sudah cukup lama aku berdiri dipantai ini, menikmati keindahannya
hingga sinar matahari menghujaniku tapi tak cukup lama untuk bisa benar-benar
pergi dari sini. Aku harus menunggu lebih lama lagi. Perjalanan ini juga
memakan waktu yang cukup lama. Kenapa menjadi sangat sulit ingin bertemu
denganmu?
Kamu
bilang, seseorang akan mengantarmu untuk bertemu denganku. Dia hanya butuh
kabar dari Ayah. Sayangnya Ayah tidak mau memberi kabar. Kita seperti
kehilangan harapan untuk bertemu. Satu kota tapi tidak bisa bertemu, merasa
kita lebih jauh padahal kenyataannya jarak kita lebih dekat.
Penantian
dan usaha kita sepertinya tak sia-sia, malioboro jadi saksinya. Bukan tempat
yang romantis untuk melepas rindu, tapi tempat terakhir yang sangat diharapkan
karena sini kesempatan terakhir kita bisa bertemu. Di keramaian ini aku
menemukanmu, kamu menemukanku. Aku kira akan ada pelukan manis, pernyataan rindu dan cinta. Nyatanya tak
begitu. Bahkan kabarku menjadi tak penting lagi. Kamu hanya butuh barang. Ingin
meneteskan air mata didepanmu, agar kamu tahu betapa aku mengharapkan lebih
dari ini. Betapa aku mengaharapkan kamu. Ingin menceritakan perjalanan ini. Jangankan
membahas kita, menanyakan kabarmu pun aku tak sempat. Tak sampai 5 menit kita
sudah berpisah lagi.
Tak
ada pelukan perpisahan. Kita jalan kearah yang sama tapi kamu meninggalkan aku,
kamu bahkan tidak meraih tanganku dan mengajakku jalan bersama. Aku tidak bisa
berkeluh kesah. Terlalu banyak kekecewaan dalam hati ini. Aku tidak bisa
berpikir jernih. Kesal, marah, kecewa. Tak tahu pada siapa aku ingin
melampiaskannya. Mungkin harusnya aku memahami kode dari Ayah. Mungkin harusnya
aku tak bertemu denganmu. Tak perlu bersusah payah memikirkanmu. Harusnya aku
menikmati liburan ini. Harusnya.
Aku
melihatmu berlari menjauh tanpa menoleh kebelakang lagi. Terlalu mudah untukmu
pergi meninggalkan aku. Tidak begitu denganku. Seandainya kamu tahu, saat aku
hampir kehilangan harapan untuk bertemu denganmu, aku diam, dan air mata itu
menetes. AKU MENANGIS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar