Senin, 02 September 2013

hei adam, aku kecewa



Aku tidak tahu apa otakku masih berfungsi dengan baik atau tidak. Setelah berhasil melupakan perasaan ini, setelah berhasil melalui hari-hari tanpamu, aku masih sangat ingin bertemu denganmu. Banyak yang aku ingin sampaikan, mungkin terlalu banyak. Kerinduan yang menggebu-gebu ini mengharapkan pertemuan nyata setelah kata-kata rindu yang sama-sama kita ungkapkan dalam pesan singkat beberapa hari terakhir ini. Aku tidak biasanya begini, berani mengungkapkan rindu dan menunjukkan betapa aku mencintaimu. Walaupun kutunjukkan dengan kata-kata, percayalah sayang, rindu dan cinta itu sungguh ada.

Aku datang padamu sayang, berharap bisa melepaskan rindu ini secepat mungkin. Kamu pun juga terlihat tak sabar. Kata-katamu menggambarkan kerinduan yang sama. Aku senang rindu ini bukan hanya milikku, bukan hanya milikmu, tapi rindu ini milik kita. Aku rasa ini akan menjadi agak sulit. Ayah membawaku ke tempat yang jauh, sangat jauh. Aku sangat takut  kamu tidak datang. Bukan karna kamu tak ingin, tapi karna kamu tak bisa. Terlalu banyak rintangan untuk tiba kesini. Bahkan memberi kabar padamu pun menjadi sulit. Ayah bilang kamu tidak akan datang, tidak akan pernah.

Aku menunggumu di tepi pantai malam ini, mendengar suara ombak, berharap setelahnya muncul suaramu memanggil namaku dan ketika aku membalikkan badanku, aku akan melihatmu berlari mendatangiku, memelukku erat, melepaskan rindu yang lama tertahan dalam hati. Sedih, bukan suaramu yang memanggilku melainkan nada dering telepon yang berbunyi memecah keheningan di tepi pantai ini. Ayah benar, kamu tidak datang. Kamu menjanjikan pertemuan itu esok hari. Aku menjatuhkan diri di tempat tidur dengan kecewa. Ingin menangis tapi tak ingin membuat mereka khawatir. Malam jadi terasa jauh lebih panjang.

Pagi-pagi buta aku sudah terbangun, berharap bisa bertatap muka dengan kamu lebih cepat. Pantai menjadi tempat pelarianku. Menunggu matahari terbit sambil mendengarkan suara ombak, merasakan butiran pasir halus dibawah kakiku, meninggalkan jejak-jejak kaki disana, merasakan air laut menyapu butiran-butiran pasir itu dari kakiku saat ombak kecil tiba. Rasa dingin menembus tulangku. Aku suka itu, aku harap angin membawa rindu yang ada di dalam diriku padamu dan membuat kamu merasakan rindu ini lebih dalam. Sudah cukup lama aku berdiri dipantai ini, menikmati keindahannya hingga sinar matahari menghujaniku tapi tak cukup lama untuk bisa benar-benar pergi dari sini. Aku harus menunggu lebih lama lagi. Perjalanan ini juga memakan waktu yang cukup lama. Kenapa menjadi sangat sulit ingin bertemu denganmu?

Kamu bilang, seseorang akan mengantarmu untuk bertemu denganku. Dia hanya butuh kabar dari Ayah. Sayangnya Ayah tidak mau memberi kabar. Kita seperti kehilangan harapan untuk bertemu. Satu kota tapi tidak bisa bertemu, merasa kita lebih jauh padahal kenyataannya jarak kita lebih dekat.

Penantian dan usaha kita sepertinya tak sia-sia, malioboro jadi saksinya. Bukan tempat yang romantis untuk melepas rindu, tapi tempat terakhir yang sangat diharapkan karena sini kesempatan terakhir kita bisa bertemu. Di keramaian ini aku menemukanmu, kamu menemukanku. Aku kira akan ada pelukan manis,  pernyataan rindu dan cinta. Nyatanya tak begitu. Bahkan kabarku menjadi tak penting lagi. Kamu hanya butuh barang. Ingin meneteskan air mata didepanmu, agar kamu tahu betapa aku mengharapkan lebih dari ini. Betapa aku mengaharapkan kamu. Ingin menceritakan perjalanan ini. Jangankan membahas kita, menanyakan kabarmu pun aku tak sempat. Tak sampai 5 menit kita sudah berpisah lagi.

Tak ada pelukan perpisahan. Kita jalan kearah yang sama tapi kamu meninggalkan aku, kamu bahkan tidak meraih tanganku dan mengajakku jalan bersama. Aku tidak bisa berkeluh kesah. Terlalu banyak kekecewaan dalam hati ini. Aku tidak bisa berpikir jernih. Kesal, marah, kecewa. Tak tahu pada siapa aku ingin melampiaskannya. Mungkin harusnya aku memahami kode dari Ayah. Mungkin harusnya aku tak bertemu denganmu. Tak perlu bersusah payah memikirkanmu. Harusnya aku menikmati liburan ini. Harusnya.

Aku melihatmu berlari menjauh tanpa menoleh kebelakang lagi. Terlalu mudah untukmu pergi meninggalkan aku. Tidak begitu denganku. Seandainya kamu tahu, saat aku hampir kehilangan harapan untuk bertemu denganmu, aku diam, dan air mata itu menetes. AKU MENANGIS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar