Duduk sendirian di suatu ruangan, tenggelam dalam
keheningan. Tidak terlalu hening juga. Masih ada detak jarum jam dan suara
angin yang samar-samar terdengar. Ruangannya tidak gelap, tidak juga bernuansa
hitam, tidak ada kesan mistis, ataupun mencekam. Memang, tak ada mata yang
menatap tajam kearahku, tak ada tangan yang akan mencekikku dari belakang. Tapi
keheningan ruangan ini membuatku begitu tersudut dan takut.
Keheningan itu lebih menyeramkan dari kegelapan. Selalu ada
suara-suara yang mengganggu dan kadang hanya kita yang bisa mendengar. Suara
yang mengundang kita melakukan kebaikan. Suara yang mengundang kita melakukan
perbuatan buruk. Dalam keheningan kita juga sering teringat apa yang telah kita
lalui akhir-akhir ini. Memunculkan emosi sesaat, emosi yang sama seperti saat
kita mengalami kejadian itu. Emosi tak terkontrol dan mudah berubah. Emosi yang
mendorong kita melakukan ini dan itu.
Bisikan-bisikan yang menyeret kita, menarik kita untuk
merencanakan niat-niat busuk. Sayang, aku masih punya hati. Aku mungkin
memikirkannya, tapi aku tidak akan melakukannya. Emosi sesaat yang akan merusak
segalanya. Untuk apalah kita memusingkan yang ada dibelakang kita. Kamu, yang
ada di depanku, lebih menarik dan lebih penting. Lebih menyenangkan untuk
dipikirkan, dibandingkan dia yang ada di belakang. Mungkin sinyal-sinyal busuk
ini datang dari memori pahitku bersamanya, tapi aku percaya, sinyal-sinyal
positif ini akan datang dan mengalahkannya saat aku merancang masa depanku
bersamamu.
Kamu, orang yang akan mengeluarkan aku dari ruangan ini.
Menjauhkan aku dari keheningan menakutkan ini dan berbalik membawaku ke ruang
yang lebih terbuka, dikelilingi aura positif dan cinta. Kamu juga yang akan
menyanyikan lagu-lagu romantis, membuatku melupakan semua memori pahit juga
imaginasi buruk. Kamu akan menggantinya dengan impian-impian yang terasa begitu
hidup saat aku memejamkan mata. Kamu yang akan menolong aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar