Jumat, 06 September 2013

kamu yang akan menolong aku



Duduk sendirian di suatu ruangan, tenggelam dalam keheningan. Tidak terlalu hening juga. Masih ada detak jarum jam dan suara angin yang samar-samar terdengar. Ruangannya tidak gelap, tidak juga bernuansa hitam, tidak ada kesan mistis, ataupun mencekam. Memang, tak ada mata yang menatap tajam kearahku, tak ada tangan yang akan mencekikku dari belakang. Tapi keheningan ruangan ini membuatku begitu tersudut dan takut.

Keheningan itu lebih menyeramkan dari kegelapan. Selalu ada suara-suara yang mengganggu dan kadang hanya kita yang bisa mendengar. Suara yang mengundang kita melakukan kebaikan. Suara yang mengundang kita melakukan perbuatan buruk. Dalam keheningan kita juga sering teringat apa yang telah kita lalui akhir-akhir ini. Memunculkan emosi sesaat, emosi yang sama seperti saat kita mengalami kejadian itu. Emosi tak terkontrol dan mudah berubah. Emosi yang mendorong kita melakukan ini dan itu.

Bisikan-bisikan yang menyeret kita, menarik kita untuk merencanakan niat-niat busuk. Sayang, aku masih punya hati. Aku mungkin memikirkannya, tapi aku tidak akan melakukannya. Emosi sesaat yang akan merusak segalanya. Untuk apalah kita memusingkan yang ada dibelakang kita. Kamu, yang ada di depanku, lebih menarik dan lebih penting. Lebih menyenangkan untuk dipikirkan, dibandingkan dia yang ada di belakang. Mungkin sinyal-sinyal busuk ini datang dari memori pahitku bersamanya, tapi aku percaya, sinyal-sinyal positif ini akan datang dan mengalahkannya saat aku merancang masa depanku bersamamu.

Kamu, orang yang akan mengeluarkan aku dari ruangan ini. Menjauhkan aku dari keheningan menakutkan ini dan berbalik membawaku ke ruang yang lebih terbuka, dikelilingi aura positif dan cinta. Kamu juga yang akan menyanyikan lagu-lagu romantis, membuatku melupakan semua memori pahit juga imaginasi buruk. Kamu akan menggantinya dengan impian-impian yang terasa begitu hidup saat aku memejamkan mata. Kamu yang   akan menolong aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar