Aku sudah mengatakan ini berkali-kali. Namun mungkin ini
untuk yang terakhir kali. Aku ingin mengingatkan kalau, aku sayang kamu. Aku
sering mendengar ucapan rindu darimu namun tak pernah mendengar kamu mengatakan
“aku sayang kamu juga” atau “aku sayang kamu lebih”. Bukan maksudku menuntut
kamu harus mencintaiku sama seperti aku mencintaimu. Aku tahu yang kau
inginkan dan butuhkan. Sosok dirinya yang
tidak pernah ada padaku.
Ini bukan pilihanku untuk tetap mencintaimu, tapi kamu perlu
tahu, ini pilihanku untuk tetap menantimu. Aku bisa saja menjauh darimu dan
memulai cinta yang lain. Ya, sepertinya aku bisa. Aku pernah mencobanya dan
hampir berhasil ketika kamu hadir lagi dan membisikkan kata rindu. Kata yang
tak begitu bermakna bagi mereka yang tak benar-benar pernah merasakan jarak.
Berbeda denganku yang tidak bisa setiap hari menatap wajahmu, melihat senyummu,
mendengar suaramu, bahkan mengetahui kabarmu dari pesan singkat.
Satu kata itu dapat membuatku terbang begitu tinggi, tertawa
begitu bahagia, tersenyum dengan sangat puas. Satu kata itu membuatku merasa
penantianku tak sia-sia. Aku pernah ke kotamu. Kamu menghujani ponselku dengan
pesan-pesan singkat yang manis. Aku kira kamu benar menungguku, benar ingin
bertemu aku dan bicara denganku. Tak sampai satu menit, semua kembali seperti
dulu. Kamu pergi, tanpa kabar, yang ada hanya si bodoh (baca : aku) yang selalu
menanti kabarmu dan kehadiranmu. Terakhir aku ke kotamu, kejadian itu terulang
lagi. Satu menit yang benar-benar membunuh. Hanya bisa melihatmu tanpa bisa bicara
banyak. Padahal aku ingin sekali memelukmu, menceritakan betapa aku benar-benar
menanti hari ini. Sayangnya masih ada jarak tak terlihat diantara kita.
Kini kamu yang ke kotaku. Bodohnya, aku tak pernah bisa ada
waktu untukmu. Kita masih punya janji jalan berdua, tapi sampai kini kita hanya
bisa menyimpan janji itu. Mungkn bagimu pergi keluar dan menonton film pilihan
adalah hal biasa, tapi bagiku itu berbeda jika denganmu. Keadaanku tak pernah
memungkinkan aku untuk pergi denganmu. Entah sampai kapan janji itu terus
menggantung.
Sedih rasanya ketika kita bisa berada di kota yang sama tapi
tak bisa selalu berdekatan. Tapi lebih sedih lagi ketika kita berdekatan tapi
tak bisa banyak bicara. Ada jarak yang menghalangi. Bukan jarak dengan hitungan
kilometer. Jarak ini lebih buruk dari itu. Kesalahpahaman antara kita. Kita
butuh bicara berdua, meluruskan semua persepsi yang ada. Persepsi kita
masing-masing yang semakin membuat jarak antara kita. Kita benar-benar butuh waktu
dan sampai waktu itu datang, aku ingin kamu tahu, aku selalu menunggu kamu. Aku
akan ingat janji yang kamu ucapkan "Ketika aku kembali 4 tahun lagi, aku kembali untukmu.".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar