Kamis, 16 Januari 2014

4 Tahun Lagi



Aku sudah mengatakan ini berkali-kali. Namun mungkin ini untuk yang terakhir kali. Aku ingin mengingatkan kalau, aku sayang kamu. Aku sering mendengar ucapan rindu darimu namun tak pernah mendengar kamu mengatakan “aku sayang kamu juga” atau “aku sayang kamu lebih”. Bukan maksudku menuntut kamu harus mencintaiku sama seperti aku mencintaimu. Aku tahu yang kau inginkan  dan butuhkan. Sosok dirinya yang tidak pernah ada padaku.

Ini bukan pilihanku untuk tetap mencintaimu, tapi kamu perlu tahu, ini pilihanku untuk tetap menantimu. Aku bisa saja menjauh darimu dan memulai cinta yang lain. Ya, sepertinya aku bisa. Aku pernah mencobanya dan hampir berhasil ketika kamu hadir lagi dan membisikkan kata rindu. Kata yang tak begitu bermakna bagi mereka yang tak benar-benar pernah merasakan jarak. Berbeda denganku yang tidak bisa setiap hari menatap wajahmu, melihat senyummu, mendengar suaramu, bahkan mengetahui kabarmu dari pesan singkat.

Satu kata itu dapat membuatku terbang begitu tinggi, tertawa begitu bahagia, tersenyum dengan sangat puas. Satu kata itu membuatku merasa penantianku tak sia-sia. Aku pernah ke kotamu. Kamu menghujani ponselku dengan pesan-pesan singkat yang manis. Aku kira kamu benar menungguku, benar ingin bertemu aku dan bicara denganku. Tak sampai satu menit, semua kembali seperti dulu. Kamu pergi, tanpa kabar, yang ada hanya si bodoh (baca : aku) yang selalu menanti kabarmu dan kehadiranmu. Terakhir aku ke kotamu, kejadian itu terulang lagi. Satu menit yang benar-benar membunuh. Hanya bisa melihatmu tanpa bisa bicara banyak. Padahal aku ingin sekali memelukmu, menceritakan betapa aku benar-benar menanti hari ini. Sayangnya masih ada jarak tak terlihat diantara kita.

Kini kamu yang ke kotaku. Bodohnya, aku tak pernah bisa ada waktu untukmu. Kita masih punya janji jalan berdua, tapi sampai kini kita hanya bisa menyimpan janji itu. Mungkn bagimu pergi keluar dan menonton film pilihan adalah hal biasa, tapi bagiku itu berbeda jika denganmu. Keadaanku tak pernah memungkinkan aku untuk pergi denganmu. Entah sampai kapan janji itu terus menggantung.

Sedih rasanya ketika kita bisa berada di kota yang sama tapi tak bisa selalu berdekatan. Tapi lebih sedih lagi ketika kita berdekatan tapi tak bisa banyak bicara. Ada jarak yang menghalangi. Bukan jarak dengan hitungan kilometer. Jarak ini lebih buruk dari itu. Kesalahpahaman antara kita. Kita butuh bicara berdua, meluruskan semua persepsi yang ada. Persepsi kita masing-masing yang semakin membuat jarak antara kita. Kita benar-benar butuh waktu dan sampai waktu itu datang, aku ingin kamu tahu, aku selalu menunggu kamu. Aku akan ingat janji yang kamu ucapkan "Ketika aku kembali 4 tahun lagi, aku kembali untukmu.".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar