Kamu menggendongku, membaringkan aku di tempat tidur dan
menciumku dengan manis. Ya, kamu melakukannya disaat terburukku. Saat kita
sama-sama tahu aku takkan bisa bertahan lebih lama. Kamu berubah menjadi pangeran
yang selama ini aku impikan. Bukan wajahmu yang berubah, sayang. Tapi caramu
memperlakukanku. Sangat manis.
Aku terlelap dengan senyuman di wajahku dan aku terbangun
dengan perasaan lebih baik, bahkan aku merasa sangat sehat. Perasaanku sangat
sehat, berbanding terbalik dengan tubuhku. Kamu datang dengan semangkuk bubur
di tangan kananmu dan segelas air putih di tangan kirimu. Belum sempat aku
merasakan dimanja olehmu, alarmku sudah berbunyi. Aku hanya bermimpi. Entah ini
adalah mimpi yang indah atau mimpi buruk. Mimpi itu membuatku merasa tak
karuan. Aku senang pernah merasakan perhatianmu yang begitu dalam walau hanya
lewat mimpi, namun mimpi ini mendorongku
masuk ke dalam jurang kerinduan yang dalam.
Aku benar-benar ingin bertemu denganmu lagi. Ya, lagi, dan
kali ini kuharap lebih lama. Aku ingin bicara denganmu tentang perasaanku,
mungkin juga perasaanmu, dan tentang kita. Topik pembicaraan yang dalam, namun
dibutuhkan agar semua ini jelas. Bukankah sangat sakit ketika seseorang
bertanya pada kita, apa hubungan kita sebenarnya dan kita hanya bisa tersenyum.
Tersenyum pahit. Menahan perasaan dan keinginan saling memiliki. Munafik,
ketika seseorang bilang cinta tak harus memiliki. Kita akan sangat tersiksa
ketika kita tidak bisa memiliki orang yang kita cintai.
Kamu pernah berjanji padaku akan menjelaskan semuanya ketika
kamu kembali. Tapi sekarang apa? Apa yang bisa kau jelaskan? Tidak ada. Kamu
hanya datang sebentar lalu pergi. Aku mencoba memulai pembahasan itu dan dari
situlah aku tahu, kamu sudah melupakannya. Hampir satu tahun aku menanti
penjelasan itu dan kamu dengan mudahnya melupakan apa yang ingin kamu katakan,
apa yang dulu kamu bilang penting, apa yang dulu kamu bilang tentang kita. Aku
menyesal percaya padamu. Aku benar-benar bodoh terus menantimu. Aku tahu. Aku
sadar. Tapi mungkin aku akan terus menantimu seperti orang bodoh. Aku tidak
peduli. Cepatlah sadar, sayang. Sebelum waktu yang akan menyadarkan aku dan
membawaku pergi jauh darimu.
Tulisan sederhana ini kutulis sepenuh hati, dengan air mata di
pipi dan diiringi lagu-lagu sedih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar