Beberapa hari yang lalu, aku mencoba membuat puisi sederhana tentang sebuah perjalanan. Aku tahu sayang, perjalanan kita sudah terlalu jauh. Namun kita belum juga menemukan akhir yang jelas. Sampai kita mendapatkan sebuah kesimpulan baru...kamu bahagia dengan jalanmu dan aku juga (terpaksa harus) bahagia dengan jalanku. Kita berpisah di persimpangan itu.
Aku bilang, perjalanan paling jauh adalah perjalanan menuju hatimu. Rasanya seperti mengikuti alur benang yang kusut. Sungguh tak kutemui ujungnya.
Aku juga bilang, jauhnya perjalanan Surabaya - Jogja tak sejauh harapanku padamu. Ah mungkin aku yang berharap terlalu jauh.
Kita memang telah berjalan jauh. Lebih dari 365 hari yang kita lewati. Lebih dari 12 kali bulan purnama kita lihat.
Aku sedih kita harus sampai di persimpangan itu.
Aku bilang, langkah yang kita ambil menentukan arah perjalanan kita. Kamu mengambil langkah yang lain, membuat kita berjalan ke arah yang berbeda.
Kamu menemukan seseorang baru yang bisa berjalan bersamamu ke arah yang kamu mau. Lalu aku bilang, sebuah perjalanan akan terasa sangat menyenangkan jika aku berjalan berdampingan denganmu ke arah yang sama, bukannya menyaksikan kamu berjalan dengannya ke arah yang berbeda dan meninggalkan aku di persimpangan itu.
Aku tak ingin sendirian menanti kamu disana. Karna aku tau, kamu tak akan kembali. Kini aku melanjutkan perjalananku sendiri. Jika dari tiap perjalanan akan ada kenangan, mungkin kini kamu adalah bagian dari kenangan itu.
Aku berjalan terus tanpa henti. Bukan aku tak kenal lelah. Aku hanya mencoba menjauh, kalau bisa sangat jauh dari persimpangan itu. Aku tak ingin mengingat hari dimana kamu meninggalkan aku. Tapi pada kenyataannya, disetiap langkahku, bayangmu selalu mengikuti aku.
Dalam tiap langkahku pun, aku tak pernah lupa mendoakanmu. Aku ingin kelak kita bertemu lagi, berjalan bersama lagi dan tak akan terpisah meskipun kita menemui banyak persimpangan.
Sampai kini jalan yang kita ambil dan kita tempuh masih belum mempertemukan kita kembali. Harus berjalan sejauh apalagi agar aku bisa kembali berjalan bersamamu?
Kau bilang, kamu sedang berlari di atas pecahan kaca diiringi tawa orang-orang yang melihatmu. Sesulit itu kah perjalananmu dengannya?
Jika kita tak berpisah di persimpangan itu, mungkin aku akan menemanimu berlari di atas pecahan kaca itu. Walau sesungguhnya aku tak suka berlari. Aku lebih suka berjalan dan menikmati.
Jika kita tak berpisah di persimpangan itu, mungkin kamu akan berjalan bersama denganku di jalan yang telah diberkati ini. Di jalan yang dimana aku banyak menemukan kesenangan. Walau kesenangan yang tak lengkap karna tanpamu.
Ah, apa gunanya menyesali sebuah perpisahan. Aku berjalan terus. Menajuh dari persimpangan jurang pemisah kita. Aku harap jalanmu segera membaik. Jika jodoh, sebuah persimpangan yang diberkati akan mempertemukan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar