Aku bisa membayangkan pertemuan itu. Kamu memanggil namaku
tapi aku enggan menoleh kearahmu. Kamu mengulurkan tangan, menahanku dengan
memegangi lenganku. Aku memejamkan mata, tetap tak bergeming, tetap tak bicara.
Kamu sekarang berdiri di depanku, aku bisa merasakannya tapi aku masih tidak
berani membuka mata. Kamu menggoyang-goyangkan bahuku, merengek agar aku
membuka mata dan bicara padamu. Aku tidak yakin akan melakukannya dan
mengulangi kebodohan yang sama seperti yang dulu pernah aku lakukan. Aku membuka
mata, tapi aku tetap tak bicara.
Keheningan yang seperti ini, yang membuat aku ingin
menangis. Jika diam seperti ini bisa membuat kita dekat tanpa ada
kesalahpahaman, aku rela terus berdiam diri didekatmu. Menjadi pendengar yang
baik dan peka akan tiap intonasi dalam tiap ucapanmu. Tapi tidak, kita tidak
bisa begini terus, semua ini harus selesai, secepat mungkin.
Air mataku mulai mengalir dikedua pipiku, kamu hanya
memandangiku dengan heran sambil tetap memegangi bahuku. Ya, kenapa? Aku tidak
tahu mau bilang apa padamu, semua yang sudah aku katakan seolah tidak berarti
dan tidak penting bagimu, lalu untuk apa sekarang aku bicara? Aku hanya bisa
menangis, aku kehabisan kata-kata untuk meyakinkanmu. Lebih baik kita berpisah.
Lebih baik kita berjauh-jauhan lagi.
Tentang cinta ini, mungkin kita, atau mungkin aku harus
melupakannya. Tak mudah membuatmu mengerti, tak mudah pula membuatmu
merasakannya. Kita selalu meragukan perasaan masing-masing. Kita tak bisa
membedakan yang tulus dan yang tidak. Kita sibuk dengan presepsi masing-masing.
Kamu bilang aku membaginya? Itu semua tidak benar sayang.
Apakah kamu pernah mendengar tentang ‘pengalih perhatian’? ya itu lah mereka
sayang. Aku berusaha melupakanmu dengan mencoba melihat mereka. nyatanya aku
tidak bisa, kata-kata puitis yang kubaca mengingatkan aku padamu. Mengirimnya
padamu adalah hal ang mustahil, jadi semuanya kubaca sendiri, kurenungkan
sendiri, hingga aku terlelap dengan air mata yang mulai mengering di pipiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar