Selasa, 01 Oktober 2013

bunga matahari



Pernahkah kamu terbangun di pagi hari yang cerah, membuka jendela, membiarkan sinar matahari menerpa tubuhmu dan kamu memejamkan mata menikmatinya, pernahkan? Jika kamu melakukannya, kamu sama seperti bunga matahari. Bunga ini selalu menanti sinar matahari menerpa tubuhnya. Melihat kearah matahari singgah agar dapat menikmati sinarnya lebih lama.

Mungkin diluar sana ada orang yang membenci sinar matahari, mengutuk terbitnya matahari dan  berteriak senang ketika matahari mulai kembali bersembunyi. Ketika orang-orang itu berpesta di hari yang gelap, pernahkah kamu membayangkan apa yang dilakukan bunga matahari?

Bunga itu hanya tertunduk, entah bersedih, entah merenung. Sepanjang malam hanya melihat ke tanah, dia tidak ingin menatap bulan, meskipun sinar bulan dapat menemaninya dalam kegelapan. Dia juga tidak ingin melihat taburan bintang di langit yang menawarkan cahaya indahnya. Banyak yang bisa menggantikan matahari di kala malam. Tapi yang dia nanti hanya matahari. Yang dia mau hanya matahari.

Begitu juga aku ketika menunggu kamu. Banyak yang hadir menawarkan cintanya dan berharap bisa menempati posisimu dihatiku. Sayangnya, aku seperti bunga matahari. Aku hanya melihat pada satu arah. Aku hanya menanti satu orang. Aku juga hanya mau satu orang. Yaitu kamu, matahariku.

Bukan perumpamaan yang terlalu indah memang. Bukan kata-kata yang terlalu puitis dan bernilai sastra. Bunga matahari memang sederhana, tapi untuk apa mencari yang terlalu sempurna dan bercahaya kalau yang sederhana saja bisa membahagiakan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar