Pernahkah kamu terbangun di pagi
hari yang cerah, membuka jendela, membiarkan sinar matahari menerpa tubuhmu dan
kamu memejamkan mata menikmatinya, pernahkan? Jika kamu melakukannya, kamu sama
seperti bunga matahari. Bunga ini selalu menanti sinar matahari menerpa
tubuhnya. Melihat kearah matahari singgah agar dapat menikmati sinarnya lebih
lama.
Mungkin diluar sana ada orang yang
membenci sinar matahari, mengutuk terbitnya matahari dan berteriak senang ketika matahari mulai
kembali bersembunyi. Ketika orang-orang itu berpesta di hari yang gelap,
pernahkah kamu membayangkan apa yang dilakukan bunga matahari?
Bunga itu hanya tertunduk, entah
bersedih, entah merenung. Sepanjang malam hanya melihat ke tanah, dia tidak
ingin menatap bulan, meskipun sinar bulan dapat menemaninya dalam kegelapan.
Dia juga tidak ingin melihat taburan bintang di langit yang menawarkan cahaya
indahnya. Banyak yang bisa menggantikan matahari di kala malam. Tapi yang dia
nanti hanya matahari. Yang dia mau hanya matahari.
Begitu juga aku ketika menunggu
kamu. Banyak yang hadir menawarkan cintanya dan berharap bisa menempati
posisimu dihatiku. Sayangnya, aku seperti bunga matahari. Aku hanya melihat
pada satu arah. Aku hanya menanti satu orang. Aku juga hanya mau satu orang.
Yaitu kamu, matahariku.
Bukan perumpamaan yang terlalu
indah memang. Bukan kata-kata yang terlalu puitis dan bernilai sastra. Bunga
matahari memang sederhana, tapi untuk apa mencari yang terlalu sempurna dan
bercahaya kalau yang sederhana saja bisa membahagiakan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar