“Sesuatu
yang BAIK datang bagi mereka yang PERCAYA.
Sesuatu yang LEBIH BAIK datang bagi mereka yang BERSABAR.
Dan sesuatu yang TERBAIK datang bagi mereka yang TIDAK PERNAH MENYERAH.”
Sesuatu yang LEBIH BAIK datang bagi mereka yang BERSABAR.
Dan sesuatu yang TERBAIK datang bagi mereka yang TIDAK PERNAH MENYERAH.”
Aku mungkin belum pernah mengatakan
padamu alasan aku mencintaimu hingga sekarang. Cinta itu tidak butuh alasan,
cinta adalah proses alami, datang tiba-tiba, pada waktu dan orang yang tidak
terduga. Aku tidak pernah menyangka aku akan jatuh cinta padamu. Kalau cinta
bisa direncanakan aku akan memilih jatuh cinta padamu sejak aku kelas 6 SD,
dengan begitu aku bisa punya banyak waktu untuk menikmati setiap momen berharga
bersamamu. Sayangnya semua itu tidak bisa aku lakukan. Kita tidak terlalu
dekat, bahkan jarang bicara. Aku baru jatuh cinta padamu saat kita sama-sama
duduk di bangku SMP. Kelas 3. Hampir berpisah, sangat terlambat menurutku.
Kamu mungkin bertanya-tanya, bagaimana
mungkin aku jatuh cinta padamu padahal kita jarang berkomunikasi. Sekarang aku
akan menjelaskannya sayang. Dua tahun yang lalu, aku sedang menikmati indahnya
cinta pertama. Namanya hidup, baik karir ataupun cinta semua ada lika-likunya.
Aku tidak ingat tepatnya bulan apa, yang aku tahu, saat itu hatiku benar-benar
dibuat hancur oleh pangeran pertama dalam hidupku. Kadang aku menangis dalam
kelas. Kadang aku juga tidak bersemangat mengikuti pelajaran-pelajaran di
kelas. Aku melamun, aku juga kadang menciptakan duniaku sendiri dengan mencoret-coret
buku tulisku, membuat inisial namanya atau menggambar hati yang terbelah dua.
Tapi candaanmu di kelas, selalu membuatku tersadar dari lamunanku dan terlepas
dari duniaku.
Suasana hatiku yang buruk kembali lagi
menjadi baik setelah tertawa karena lelucon-lelucon yang kau lontarkan dari
bibirmu. Saling balas dengan teman-teman baikmu. Kadang hiburan secara tidak
langsung bagiku menjadi gangguan bagi guru kita. Semakin mereka marah, semakin
kamu dan teman-temanmu tertawa. Kalian tidak berhenti, kalian malah saling
lempar lelucon. Jujur, aku menikmatinya, tiap tawa yang kau ciptakan membuat
hati ini jauh lebih baik.
Karena bersama kamu juga, aku percaya
pada takdir. Takdir yang ternyata sudah mendekatkan kita sejak kita kelas 6 SD
dan baru kusadari saat aku mulai mencintaimu.
Mungkin kamu tidak ingat beberapa
kejadian yang melibatkan kita di dalamnya, mendekatkan kita dari waktu ke
waktu. Memang takdir tidak selamanya berpihak pada kita, kadang kita
didekatkan, kadang kita dijauhkan. Kamu harus tahu, saat aku menulis ini, aku
tidak membuat ceritanya, aku tidak merancang takdirnya. Aku mengingat setiap
kejadian yang kita alami, aku menerima takdirnya.
Ingatkah kamu kita pernah bertugas
berdampingan? Ingatkah kamu kita pernah menertawakan hal-hal sepele hingga
membuat mereka iri? Mereka memang tidak terang-terangan mengatakannya, tapi
dari sikap mereka yang tiba-tiba marah, aku anggap mereka iri pada kebahagiaan
kecil kita. Kita pernah beberapa kali bertukar posisi. Menurutku, pertukaran
posisi itu juga berkat takdir yang selalu melibatkan namaku dan namamu agar
selalu disebut berdampingan. Kita juga pernah terjebak di antara beberapa deret
buku-buku lama yang sebenarnya jarang tersentuh. Kita membaca tiap lembarnya
tapi kita tidak pernah bisa mengingat isinya. Kita hampir berdiri berdampingan
di depan mereka semua dalam sebuah peringatan penting. Kita pernah juga hampir
duduk berdampingan dalam sebuah perjalanan. Aku tidak tahu siapa yang
menggagalkan rencana takdir. Aku sedikit kecewa kamu menolak tiap rencana
takdir yang tersedia untuk kita. Ketahuilah sayang, aku menanti setiap
kesempatan bisa berdekatan denganmu. Hingga disaat-saat terakhir kebersamaan
kita, aku bisa berdiri di dekatmu. Hati ini terlalu bahagia untuk
menggambarkannya. Meskipun kamu tidak menyadarinya, senyumku saat itu sangat
tulus.
Masa-masa jayamu ketika sekolah kita mengikuti sebuah perlombaan, kamu begitu bersemangat memimpin teman-teman kita menyoraki pahlawan-pahlawan sekolah kita. Di hari terakhir, aku ada di dekatmu dan karena ulah malaikat usilku, aku hampir menyentuh tanganmu. Aku tidak hanya ada di dekatmu pada masa-masa jayamu. Aku juga ada disaat terburukmu. Kamu pernah tiba-tiba menjadi lemah dan terlihat payah. Menyita perhatian karena sesuatu hal yang bodoh pernah kamu lakukan. Aku dan teman-teman yang ada di sekitarmu, kita tidak ingin semua orang melihat kelemahan dan kepayahanmu hari itu. Meski kita semua tahu apa yang sebenarnya terjadi, tak ada satupun dari kita menceritakan pada mereka. Melindungimu dari ejekan mereka, itulah tujuan kita semua tutup mulut. Kamu benar-benar terlihat payah saat itu, tapi tidak merubah perasaanku padamu.
Masa-masa jayamu ketika sekolah kita mengikuti sebuah perlombaan, kamu begitu bersemangat memimpin teman-teman kita menyoraki pahlawan-pahlawan sekolah kita. Di hari terakhir, aku ada di dekatmu dan karena ulah malaikat usilku, aku hampir menyentuh tanganmu. Aku tidak hanya ada di dekatmu pada masa-masa jayamu. Aku juga ada disaat terburukmu. Kamu pernah tiba-tiba menjadi lemah dan terlihat payah. Menyita perhatian karena sesuatu hal yang bodoh pernah kamu lakukan. Aku dan teman-teman yang ada di sekitarmu, kita tidak ingin semua orang melihat kelemahan dan kepayahanmu hari itu. Meski kita semua tahu apa yang sebenarnya terjadi, tak ada satupun dari kita menceritakan pada mereka. Melindungimu dari ejekan mereka, itulah tujuan kita semua tutup mulut. Kamu benar-benar terlihat payah saat itu, tapi tidak merubah perasaanku padamu.
Setelah semua yang kita lalui, kita
memilih jalan kita masing-masing. Kamu dan orang-orang beruntung lainnya pergi
ke sebuah tempat impian sedangkan aku harus pergi ke suatu tempat yang tidak
mungkin akan kau temukan. Perpisahan yang terjadi pada kita itu bukan apa-apa,
bukan berarti aku berhenti mencintai dan memperhatikan kamu. Lagi-lagi takdir
berpihak pada kita. Takdir mengirimkan malaikatku padamu dan sekarang malaikat
itu menjadi malaikat ‘kita’. Karnanya, aku masih bisa merasakan dekat denganmu
walaupun tak sedekat dulu. Malaikatku bilang kita ini mirip, mulai dari cara
bercanda, cara berpikir, bahkan tulisan kita juga mirip. Apakah kesamaan kita
ini merupakan pertanda kalau kita jodoh?
Aku rasa kamu yang terbaik dan jujur
aku memang berharap kalau kamu jodohku. Aku PERCAYA itu. Meskipun sekarang
dihatimu ada orang lain. Meskipun aku tahu orang seperti apa yang selalu kamu
impi-impikan. Aku tetap BERSABAR menunggu kamu untuk berubah, menyadari tak
selamanya fisik bisa diandalkan. Mungkin sekarang kamu sangat mencintainya
karna matanya yang sipit, kulitnya yang putih, gambaran sempurna dimatamu, tapi
apakah cintamu akan tetap sama ketika dia tua nanti? Kamu tidak bisa
menjawabnya sekarang. Mulut manismu bisa berkata, tapi waktulah yang akan
membuktikan.
Membaca percakapanmu dengan
teman-teman lama kita, hmm atau mungkin hanya teman-teman lamamu, hanya
membuatku sedih. Sadarkah kamu, saat kamu dan mereka mengenang masa lalu
kalian, bukankah ada aku juga disana? Kalian tidak ingat karna aku bukan
apa-apa. Kehadiranku selalu diabaikan, tak pernah dilihat sedikit saja. Padahal
aku selalu memperhatikanmu.
Aku PERCAYA hal-hal kecil bisa sangat berpengaruh karna kesalahpahaman kecil juga bisa menghancurkan segalanya. Tulisan ini adalah salah satunya. Tulisan ini merupakan hal kecil dan sepele. Mungkin saat kamu membaca satu dari sekian banyak tulisanku untukmu kamu masih belum menyadarinya. Jika kamu mau membaca semuanya, membaca satu persatu, kata perkata sambil mengingat masa lalumu mungkin kamu akan menemukan aku. Kalaupun kamu masih belum bisa menemukan aku, aku TIDAK PERNAH MENYERAH, aku akan terus memberikanmu petunjuk-petunjuk yang akan membuatmu mengingatku dan menemukan aku. Bukankah sesuatu yang TERBAIK datang bagi mereka yang TIDAK PERNAH MENYERAH?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar